1

Senin, 03 Juni 2013

UKHUWAH DALAM NAUNGAN IMAN

Sudah merupakan pengetahuan kita bersama bahwasanya negara Indonesia ini memiliki semboyan yaitu Bhinneka Tunggal Ika, yakni memiliki perbedaan pada setiap elemen bangsa namun bersatu dalam satu semangat tujuan. Perbedaan-perbedaan yang ada tidaklah dianggap sebagai jurang pemisah, akan tetapi dengan adanya perbedaan menghasilkan satu barisan kokoh, kompak, dan saling merasakan. Begitulah gagasan mula perbedaan tetapi tetap satu jua.
Sebagai negeri dengan penduduk mayoritas muslim. Persaudaraan diantara pemeluknya dalam satu fondasi keimanan merupakan modal sekaligus aset disaat negeri ini akan meraih kemerdekaannya. Kaum muslimin kala itu bersatu dalam satu barisan. Sebagian diantara mereka memiliki tekad kemerdekaan satu, sebagian lainnya menganggap perjuangan meraih kemerdekaan adalah bagian dari jihad yang harus dibela. Para pahlawan bersatu, berjuang melawan para penjajah, menentang kolonialisme apapun bentuknya, mempertahankan kehormatan bahwa hakikatnya negeri ini (Indonesia) awalnya adalah tanah merdeka, tak ada yang berhak untuk memilikinya selain rakyatnya sendiri.
Adalah Islam, ajarannya menjunjung tinggi persaudaraan, menyatukan perbedaan warna kulit, budaya, suku bangsa, dalam satu bingkai kecintaan yakni kepada Allah beserta Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, dalam satu tujuan kehidupan abadi setelah di dunia ini yakni surga, yang memiliki luas seluas langit dan bumi. Maka dengan demikian, persaudaraan adalah sebuah nikmat. Di dalamnya ada persatuan tak terpisahkan dan dalam persatuan itu terdapat hubungan saling mengokohkan, menguatkan, dan padu dalam semangat cinta satu sama lain.
Persaudaraan merupakan nikmat yang Allah karuniakan kepada kita hari ini, bukankah kita akan merasa sangat bahagia, ketika kita hidup dalam sebuah negara yang mayoritasnya bukan Islam, namun berjumpa dalam satu keadaan dengan muslim lainnya sehingga berbahagialah kita bahwa ada saudara se-Islam dalam negeri tersebut. Kebanggaan itu menghasilkan kebahagiaan, dan tidaklah kebahagiaan itu ada melainkan Allah Ta’ala karuniakan itu semua kedalam hati-hati kita. Sungguh indah apa yang Allah Ta’ala firmankan,
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imraan : 103).
Persaudaraan adalah sebuah kenikmatan, semangat persatuan itu takkan dapat dibeli dengan uang, dibelanjakan dengan harta sebanyak apapun. Oleh karena itu saking mulianya sebuah persaudaraan, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memanggil pengikut beliau ketika itu dengan panggilan akrab nan hangat yakni ‘sahabat’. Sungguh tak dapat dinafikan nikmat persaudaraan yang Allah tetapkan kita dan semoga jadikan kita sebagai orang yang memelihara tali persaudaraan sebagai seorang muslim. Allah Ta’ala berfirman perihal persatuan yang dialami oleh dua kaum beriman ketika itu yakni suku Aus dan Khazraj,
“Dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha gagah lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Anfal : 63
Sungguh tantangan kedepan tidaklah lebih ringan daripada hari ini. Apa yang kelak akan dihadapi negeri ini semakin lama tentunya akan semakin meningkat. Sebagaimana Allah berikan ujian kepada hambanya, tidaklah ujian semakin lama akan semakin ringan. Akan tetapi ujian yang Allah berikan untuk meningkatkan derajat hambaNya akan selalu meningkat pula. Seseorang yang ingin berhasil pun harus siap dengan tantangan keberhasilannya. Tak ada jalan mudah menuju kebahagiaan, kesuksesan bila tak ada tantangan dihadapan.
Maka, tantangan persaudaraan bangsa ini adalah bukan lagi ancaman fisik melalui penjajahan, namun tantangan lainnya akan dating dari berbagai sisi, seperti ekonomi, teknologi, seni, dan hal-hal lain. Akan tetapi sudah sepatutnyalah kita sebagai bagian dari penerus negeri ini untuk senantiasa kokoh dan semakin merangkul bahu-membahu demi kelangsungan bangsa dan anak cucu kita nantinya.
Menjadi dewasa dalam persatuan adalah kewajiban, hal ini semata-mata agar kita bisa terus menerus menjadi bangsa mandiri. Bangsa yang didalamnya terdapat organism tangguh untuk mengangkat derajat pribadi dan harkat negeri. Pada sekup yang kecil, sudah selayaknya bila kita memulai menjaga persatuan dari ranah sederhana. Dari keluarga kita, dikokohkan fondasi kerukunan dan ketentramannya, dari tingkat masyarakat dibangunlah kemampuan untuk saling mengerti, memahami, dan satu visi. Terlebih dalam sebuah masyarakat muslim. Maka, Allah akan memberikan ganjaran mulia. Tidak hanya dari sisi dunia saja, melainkan dari sisi akhirat kelak.
Menjaga Iman, Mengikat Persatuan
Semoga kita dijadikan oleh Allah sebagai hambanya yang senantiasa dimudahkan untuk saling kasih sayang dan mengokohkan demi terjaganya persatuan, semoga Allah menjadikan kita menjadi insan yang disabdakan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam,
“Barangsiapa meringankan sebuah kesusahan (kesedihan) seorang mukmin di dunia, Allah akan meringankan kesusahannya pada hari kiamat. Barangsiapa memudahkan urusan seseorang yang dalam keadaan sulit, Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutup ‘aib seseorang, Allah pun akan menutupi ‘aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim no. 2699).
Saudaraku, ada beberapa hal yang setidaknya dapat kita cermati dan semoga Allah merahmati dan memudahkan kita untuk menapaki tangga-tangga keimanan yang dapat menyatukan kita dalam berbangsa dan bernegara. Tangga-tangga tersebut setidaknya adalah,
Pertama, hendaklah saling mencintai karena Allah Ta’ala maka seseorang kelak akan merasakan manisnya iman seperti sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tiga perkara yang seseorang akan merasakan manisnya iman : [1] Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya, [2] tidaklah mencintai seseorang kecuali karena Allah, [3] benci untuk kembali pada kekufuran sebagaimana dia benci untuk dilemparkan dalam neraka.”  (HR. Bukhari dan Muslim).
Kedua, saling membantu antar sesame sebagaimana yang Allah pesankan,
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.” (QS. Al Maaidah : 2)
Ketiga, menjaga kehormatan saudaranya, seperti pesan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam: “Janganlah kalian saling mencari-cari kesalahan orang dan jangan saling mendengki, jangan saling bertolak belakang, dan janganlah saling memusuhi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang saling bersaudara.” (HR. Bukhari).
Keempat, senantiasa mendoakan saudaranya seperti yang Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan:
 “Do’a seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah do’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendo’akan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan do’anya. Tatkala dia mendo’akan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: “Amin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi”. (HR. Muslim no. 2733)
Semoga Allah senantiasa memberikan kepada kita keteguhan untuk selalu berjalan di atas dienNya, dan agar Allah selalu memberikan kemuliaan kepada kaum muslimin kapan dan dimanapun kaum muslimin berada.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar