1

Sabtu, 20 Juli 2013

KISAH KALUNG FATIMAH AZZAHRA


Suatu ketika Rasulullah Muhammad Shalallahu Alayhi Wassalam kedatangan tamu seorang 'ibnu sabil' yang telah kehabisan bekal. karena di rumah beliau tidak ada sesuatu yang layak diberikan, maka beliau minta tolong sahabat Bilal agar mengantar tamu itu kerumah Fatimah Azzara Binti Muhammad putrinya tercinta.

Dirumah Fatimah, rupanya juga tidak ada sesuatu yang layak dimakan. maka dengan senang hati, tulus dan ikhlas, Fatimah memberinya kalung hadiah pernikahannya dengan Ali. "Ambillah kalung ini dan juallah, mudah-mudahan harganya cukup untuk memenuhi keperluanmu" kata Fatimah.

Oleh si tamu, kalung itu dijual ke Ammar bin Yasir, salah seorang sahabat Nabi. "Berapa hendak kamu jual kalung itu?" tanya Ammar bin yasir. "aku akan menjualnya dengan roti dan daging sekadar untuk mengenyangkan perutku, sebuah baju penutup tubuhku, dan uang satu dinar untuk menemui istriku" kata si tamu.

Ammar berkata, "Baiklah, aku membeli kalung itu dengan harga 20 dinar, ditambah 200 dirham, ditambah sebuah baju, serta seekor unta agar engkau dapat menemui istrimu".
Setelah itu Ammar berkata pada budaknya, Asham. "Wahai Asham, pergilah sekarang menghadap Rasulullah. katakan bahwa aku menghadiahkan kalung ini dan juga engkau kepadanya. jadi mulai hari ini kamu bukan budakku lagi tetap budak Rasulullah".
Ternyata, Rasulullah pun berbuat sebagaimana Ammar. Ia menghadiahkan kalung itu dan juga Asham kepada Fatimah.
Fatimah sangat bahagia menerima hadiah dari ayahandanya, sekalipun dia tahu bahwa kalung ini semula memang miliknya. Dia sadar, ternyata kebaikannya yang hanya sekedar memberi kalung mendapat balasan berlebih dari ALLAH Subhanahu Wa Ta'alla.

, yaitu dengan ditambah seorang budak.
Lalu Fatimah berkata kepada Asham, "Wahai Asham, engkau sekarang bebas dari perbudakan dan menjadi manusia merdeka, aku melakukan semua ini karena ALLAH .Subhanahu Wa Ta'alla semata.

Mendengar perkataan Fatimah, Asham tertawa. Fatimah pun menjadi heran dan bertanya; " Wahai Asham, mengapa engkau tertawa seperti itu?"
"Aku tertawa karena kagum dan takjub akan berkah kalung itu. Ia telah mengenyangkan orang yang lapar, Ia telah menutup tubuh orang yang telanjang, Ia telah memenuhi hajat seorang yang fakir dan akhirnya ia telah membebaskan seorang budak", jawab Asham
Mudah-mudahan kisah ini bisa menjadi pelajaran yang sangat berharga untuk kita semua, Amin.

Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), MAKA ALLAH MELIPAT GANDAKAN PEMBAYARAN KEPADANYA DENGAN LIPAT GANDA YANG BANYAK. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.
QS. Al Baqarah :245


*Disadur dari Kisah-Kisah Islami Pilihan Penggugah jiwa, pencerah hati

Jumat, 19 Juli 2013

BULAN PEMBERSIH DIRI



Kemuliaan, keberkahan, ampunan juga pahala yang berlimpah baru akan didapat seorang muslim manakala perintah dan larangan Allah SWT. telah ia patuhi. Di siang hari ia mengerjakan ibadah puasa, menahan diri dari lapar dan dahaga, hubungan intim, dan juga mengendalikan amarah dan menjauhi perkataan keji. Nabi SAW. bersabda:
«الصِّيَامُ جُنَّةٌ، فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَجْهَلْ، وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّى صَائِمٌ. مَرَّتَيْنِ، وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ، يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِى، الصِّيَامُ لِى، وَأَنَا أَجْزِى بِهِ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا»
Puasa itu perisai, maka janganlah berkata keji dan jahil, dan jika ada seseorang yang menyerangnya atau mencacinya hendaklah berkata ‘sesungguhnya aku sedang berpuasa’, ‘sesungguhnya aku sedang berpuasa’. Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, bau mulutnya orang yang berpuasa lebih baik di sisi Allah ketimbang wangi kesturi, ia meninggalkan makanannya, minumannya, serta syahwatnya demi diriKu, (maka) puasa adalah untukKu, dan Aku yang akan membalasnya, dan kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali dari semisalnya. (HR. Bukhari).

Yang dimaksud dengan ‘puasa sebagai perisai (junnah)’, adalah puasa menjadi pelindung dan pencegah dirinya dari berbagai perbuatan dosa. Adapun yang dimaksud dengan wa lâ yarfuts adalah jangan berkata kotor dan mengandung syahwat/cabul. Sedangkan al-jahlu dalam hadits itu bermakna perbuatan tidak pantas yang tidak berlandaskan ilmu, atau sia-sia. Bila seorang muslim telah melakukan hal-hal demikian, maka barulah ia layak mendapatkan berbagai keutamaan-keutamaan Ramadhan yang telah dijanjikan Allah SWT.
Intinya, dengan bulan Ramadhan ini Allah menginginkan seorang muslim melakukan pembersihan diri (tazkiyatun nafs). Syahwatnya Allah minta untuk dikendalikan, jangankan kepada wanita yang bukan haknya, istrinya yang sah sekalipun tidak boleh ia datangi di siang hari saat Ramadhan. Begitupula makan dan minum yang halal pada bulan lain, harus ia jauhi selama berpuasa. Dengan begitu akan bersihlah dirinya dari berbagai hawa nafsu yang dapat merusak kepribadiannya.
Orang yang berpuasa juga diperintahkan menjaga lisan dan perbuatannya dari perkataan dan perbuatan yang sia-sia, apalagi yang mungkar. Di sisi lain ia pun diperintahkan untuk menghidupkan berbagai ibadah, semisal tadarrus al-Quran, bersedekah, i’tikaf, dan qiyamul layl, sehingga terbentuklah pribadi muslim yang jauh dari kemungkaran dan sebaliknya, senantiasa mendekat bertaqarrub kepada Allah SWT.
Merugilah seorang muslim yang menjalankan shaum Ramadhan dengan hanya sekadar menahan lapar dan haus, akan tetapi tidak membersihkan dirinya dari segala kemaksiatan. Allah SWT. tidak membutuhkan puasa seseorang yang hanya menahan lapar dan dahaga tapi masih bergumul dengan perkataan dan perbuatan keji.
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
Siapa yang tidak meninggalkan perkataan keji dan perbuatannya, maka tidaklah Allah membutuhkan perbuatannya meninggalkan makanannya dan minumannya. (HR. Bukhari).

AGAR PUASA TAK SIA-SIA



Puasa Ramadhan secara syar’i didefinisikan sebagai upaya menahan diri (imsak) dari makan, minum dan berhubungan suami-istri, dari terbit fajar hingga terbenam matahari, yang disertai dengan niat (Ash-Shabuni, Tafsir Ayat Ahkam, I/188).

Dengan demikian, siapapun yang bisa menahan diri (imsak) dari makan, minum dan hubungan suami-istri—dari  terbit fajar hingga terbenam matahari—yang disertai dengan niat telah dianggap sebagai orang yang berpuasa. Dalam kondisi demikian puasanya sah secara syar’i.
Namun demikian, keabsahan puasa secara syar’i ini tidak otomatis bakal mendatangkan pahala bagi pelakunya. Sebab, kesempurnaan puasa hanya mungkin dengan cara menjauhi hal-hal yang dilarang dan tidak terjatuh pada perkara-perkara yang diharamkan (Ash-Shabuni, I/188). Dengan kata lain, ada syarat lain yang harus dipenuhi oleh orang yang berpuasa agar puasanya sempurna, yakni dia harus menahan diri dari perkara-perkara yang merusak puasanya atau ‘membatalkan’ pahala puasanya. Dia harus menjauhkan diri dari puasa yang sia-sia.
Puasa yang sia-sia adalah puasa yang tidak menghasilkan (pahala) apapun selain lapar, dahaga dan kepayahan. Sayangnya, justru puasa jenis inilah yang dilakukan oleh kebanyakan umat Islam, sebagaimana diisyaratkan oleh Baginda Nabi Muhammad saw., “Betapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan apapun dari puasanya itu selain lapar dan dahaga saja.” (HR ath-Thabrani).

Perkara apa saja yang bisa merusak atau membatalkan pahala puasa? Semua kemaksiatan atau dosa, kecil apalagi besar, hakikatnya bisa merusak atau membatalkan pahala puasa. 

Pertama: dosa mata. 
Banyak Muslim yang berpuasa, tetapi dia tidak bisa menahan diri dari memandang perkara yang haram. Contohnya adalah memandang aurat wanita yang bukan mahram, melihat gambar-gambar porno, dll. Puasa orang seperti ini tentu akan rusak, bahkan pahala puasanya bisa hilang tak berbekas. Ini karena menjaga pandangan dari perkara-perkara yang haram adalah wajib (Lihat: QS an-Nur [24]: 30-31).

Kedua: dosa lisan. 
Puasanya seorang Muslim yang tidak dibarengi dengan menahan diri dari membicarakan keburukan orang lain (ghibah) juga akan rusak, bahkan tidak akan mendatangkan pahala apapun. Demikian pula kata-kata kotor/jorok dan keji seperti menyebar tuduhan palsu dll; akan merusak puasa atau membatalkan pahala puasa. Ini sebagaimana sabda Nabi SAW,  “Puasa itu adalah perisai. Karena itu jika salah seorang kalian berpuasa, janganlah ia berkata-kata kotor/jorok dan berdusta.” (HR Ahmad).
Rasulullah SAW juga bersabda, “Siapa saja yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan malah mengamalkannya, maka Allah tidak membutuhkan lapar dan haus yang dia tahan.” (HR al-Bukhari).

Rasulullah SAW pun bersabda, “Puasa itu bukan hanya menahan makan dan minum saja, tetapi juga menahan diri dari perkataan sia-sia dan jorok.” (HR Ibnu Majah dan al-Hakim).


Ketiga: dosa telinga. 
Contohnya adalah mendengarkan kata-kata kotor/jorok, mendengarkan keburukan-keburukan orang lain, bahkan sekadar mendengarkan lagu-lagu yang penuh dengan syair-syair yang mempropagandakan kemaksiatan, dll. Semua itu bisa merusak puasa atau membatalkan pahala puasa.

Keempat: dosa tangan. 
Contohnya adalah menyentuh, merangkul atau bahkan memeluk wanita yang bukan mahram; memukul orang lain tanpa alasan yang haq; mencuri; dll.

Kelima: dosa kaki. Contohnya adalah berjalan-jalan ke tempat-tempat yang memungkinkan dirinya terjerumus ke dalam dosa, seperti tempat-tempat hiburan atau keramaian di mana banyak wanita yang membuka aurat berlalu-lalang, tempat-tempat yang memungkinkan terjadinya ikhtilath (campur-baur laki-laki perempuan), dll.

Keenam: dosa anggota tubuh lainnya. 
Tentu, ini mencakup semua perilaku yang bisa mendatangkan dosa. Contohnya adalah membuka aurat meski sekadar memperlihatkan selembar rambutnya, ber-khalwat atau ber-ikhtilath, melakukan transaksi ribawi, suap-menyuap, korupsi, melakukan dosa besar seperti zina atau membunuh, menzalimi orang lain (menyakiti tubuhnya, merampas hartanya, menodai kehormatannya, dll). 

Terkait dengan semua ini, Ibnu Rajab al-Hanbali bertutur, “Ketahuilah, amalan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah SWT  dengan meninggalkan berbagai syahwat yang halal di luar Ramadhan (seperti makan/minum atau berhubungan suami-istri, pen) tidak akan sempurna hingga seseorang meninggalkan perkara yang Allah SWT larang yaitu berdusta, bertindak zalim serta bermusuhan dengan sesama manusia dalam masalah darah, harta dan kehormatan.” (Latha’if al-Ma’arif, 1/168).
Jabir bin ‘Abdillah juga bertutur, “Jika kamu berpuasa, hendaklah pendengaran, penglihatan dan lisanmu turut berpuasa dari dusta dan hal-hal haram. Janganlah kamu menyakiti tetangga. Bersikap tenang dan berwibawalah di hari puasamu. Janganlah kamu jadikan hari-hari puasamu dan hari tidak berpuasamu sama saja.” (Lihat: Latha’if al-Ma’arif, 1/168).
Alhasil, agar puasa kita tak sia-sia, marilah kita meninggalkan perkara-perkara yang haram, syubhat maupun hal-hal yang tak berguna. Wa ma tawfiqi illa bilLah.

Rabu, 17 Juli 2013

MENJADI HAMBA YANG BERSUYUKUR


Dikisahkan, pada suatu hari Rasulullah Muhammad Shalallahu Alayhi Wassalam pergi keluar rumah. Di tengah jalan, beliau bertemu Abu Bakar dan Umar bin Khattab. “Mengapa kalian keluar rumah,” tanya Nabi. Jawab mereka, “Tak ada yang membuat kami keluar rumah selain rasa lapar.”
Rasulullah SAW sendiri pergi keluar rumah juga karena lapar. Lalu, beliau mengajak dua sahabatnya itu datang ke rumah seorang sahabat bernama Abu Ayyub al-Anshari. Sang tuan rumah, Abu Ayyub, bergembira ria oleh kedatangan tamu-tamu yang sangat dihormatinya itu. Abu Ayyub menyuguhkan roti, daging, kurma basah dan kering (tamar). Setelah mereka menyantap suguhan itu, Nabi SAW dengan mata berkaca-kaca berkata, “Kenikmatan ini akan ditanya oleh Allah kelak di hari Kiamat.” (HR Muslim, Thabrani, dan Baihaqi).
Kisah ini mengajarkan kepada kita kewajiban syukur atas berbagai kenikmatan yang diberikan oleh Allah SWT kepada kita, baik kecil maupun besar. Dengan syukur dan mengingat Allah Sang Pemberi nikmat maka kegiatan yang tampaknya sepele, seperti makan dan minum, dapat bernilai ibadah dan menjadi bagian dari bentuk kepatuhan kepada Allah SWT (min alwan al-tha’ah).
Air mata Nabi, dalam kisah ini, bisa dipahami sebagai ekspresi keprihatinan beliau atas kenyataan bahwa manusia pada umumnya kurang bersyukur, tetapi kufur nikmat. Kalau kenikmatan kecil-kecilan saja seperti makan dan minum wajib disyukuri, bagaimana dengan kenikmatan yang besar-besar seperti nikmat iman, kesehatan, dan kekayaan (yang berlimpah)? “Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu siarkan.” (QS al-Dhuha [93]: 11).
Menurut pakar tafsir al-Ishfahani, syukur bermakna mengerti dan menyadari nikmat, lalu menampakkannya melalui zakat, infak, dan sedekah. Syukur juga berarti mempergunakan nikmat sesuai maksud dan tujuan diberikannya nikmat itu. Maka, pemberian fasilitas nagara untuk pelaksanaan tugas tak boleh diselewengkan untuk keperluan pribadi dan golongan. Ini salah satu bentuk kekufuran.
Syukur juga bermakna mengembangkan nikmat (potensi baik) agar tumbuh dan berkembang lebih produktif. Maka, sikap pembiaran terhadap kekayaan alam dan budaya kita yang melimpah sebagai anugerah Allah, merupakan bentuk kekufuran yang lain lagi.
Kita semua disuruh bersyukur, bukan kufur. Namun, pada kenyataannya, tak semua orang pandai bersyukur. Menurut Imam Ghazali, agar menjadi manusia yang penuh syukur, kita harus sadar bahwa semua anugerah dan nikmat yang kita miliki sejatinya datang dan berasal dari Allah. Konglomerat seperti Qarun menjadi kufur, karena merasa semua kekayaannya yang sangat besar itu diperoleh karena kehebatannya sendiri. Ketika ditanya tentang kekayaannya, Qarun berkata, “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. (QS al-Qashash [28]: 78).
Berlainan dengan Qarun, Nabi Sulaiman AS, dengan kuasa dan kekayaan yang jauh lebih besar, justru menyandarkan semua kuasa dan kekayaannya itu kepada Allah SWT semata. “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (kufur) akan nikmat-Nya.” (QS al-Naml [27]: 40). Maka, bersyukurlah, bukan kufur! Wallahu a`lam

Senin, 15 Juli 2013

SHAUM : HADIAH YANG TERINDAH

Betapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak ada yang mereka dapatkan dari puasanya, kecuali lapar & haus.
(H.R Ahmad)

Tiada kerinduan yang paling mendalam bagi seorang mukmin kecuali kerinduannya kepada Allah SWT. Betapa besar keinginannya untuk selalu didampingi, dilindungi dan dikasihi oleh-Nya. Berbagai cara ditempuh dan dijalani agar semakin dekat dan semakin “menyatu” dengan-Nya. Keimanannya yang tulus ikhlas membawanya terus melangkah untuk mendapat ridha-Nya di dunia dan akhirat. Karena bagi seorang mukmin, tiada lain tujuan hidupnya, apapun amal dan tindakannya, kecuali dalam upaya mencari keridhaan-Nya.

Maka seorang mukmin akan sangat bersyukur manakala Ramadhan kembali menyapanya. Menghampiri dan mendatangi dengan segala  kemuliaan yang dibawanya. Menaburkan segala macam harapan akan rahmat, ampunan dan pertolongan Allah dari siksa neraka. Bulan dimana amal shaleh menjadi berlipat ganda nilainya. Bulan ketika setan dibelenggu dan dijauhkan dari diri. Bulan manakala keindahan ibadah akan amat terasa syahdu. Bulan tatkala seorang mukmin panen pahala. Bulan diwaktu seorang mukmin menumpahkan kerinduan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'alla.

Bagi seorang mukmin, puasa bagaikan permata paling berharga yang selalu dijaga dan diriksa agar tetap bercahaya. Agar nilainya tidak pudar dilindas dosa. Supaya ia dapat mengantarkannya lebih dekat kepada Sang Pencipta, yang berkata dalam sebuah hadits qudsi : “Semua amal anak Adam (manusia) untuk diri mereka sendiri, kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untukKu, dan Aku yang akan membalasnya”.H.R. Bukahari-Muslim, dll.
Apakah Tuhan perlu pada puasa kita dan mengabil untung dari puasa kita dengan penegasan di atas. Tentu saja tidak. Itu adalah petunjuk kepada kita betapa Allah demikian besar perhatian dan kasih sayangnya terhadap orang-orang yang dengan ikhlas berpuasa.
Kewajiban puasa merupakan cara Allah untuk menunjukkan kepedulian dan kasih sayangnya. Karena ia amat peduli pada manusia yang beriman, maka Dia menunjukkan jalan kepada-Nya. Dengan kemuliaan di ujung tujuannya, dan pahala yang amat besar disisi-Nya pada proses pelaksanaannya.
Karena demikian besar perhatian-Nya pada orang-orang mukin, maka Allah SWT. mensabdakan firman-Nya : “Wahai manusia-manusia yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan atas manusia-manusia (yang beriman) sebelum kalian, agar kalian (dengan proses puasa itu menjadi manusia-manusia yang) bertaqwa”.Al-Baqarah:183.
Karena itu puasa adalah ibadah yang lintas zaman dan peristiwa. Puasa merupakan hadiah Allah bagi kekasih-kekasih-Nya, agar dapat senantiasa berkomunikasi dan bercengkerama tanpa ada batas antara Rabb dan hamba. Ia merupakan ikatan kasih sayang antara Khaliq danmakhluk yang paling disayanginya. Maka dengan alasan apakah seorang mukmin tidak berpuasa ?

Karena itu bagi manusia-manusia beriman yang amat dekat dengan Allah SWT., kata “diwajibkan” terasa demikian kasar. Bagi mereka, mungkin kata yang tepat adalah “dihadiahkan”. Sebuah pemberian yang amat bernilai dan berharga, yang amat rugi jika tidak menerima dan mengabaikannya.




Lalu, laku puasa seperti apakah yang akan dapat mempererat hubungan hamba dengan Pencipta itu? Puasa yang bagaimanakah yang dapat dimaknai sebagai permata yang amat berharga itu ? Shaum yang seperti apakah yang dapat membelenggu setan dan mendatangkan ampunan itu ? Nurani-nurani diri masing-masing akan dengan mudah mengetahui tingkatan hamba macam apa yang kita miliki dengan Shaum yang kita jalani.
Ketika malam hari, seseorang ber-niat untuk berpuasa, kemudian ia tidak makan, tidak minum dan tidak melakukan hal yang membatalkan tatkala fajar mulai menyingsing, hingga tenggelamnya sang surya, maka ia telah berpuasa, meski selama hari itu ia tidak shalat, tidak berhenti memaki, tidak berkedip memandang gadis tetangga yang (maaf) buka paha, tidak berhenti berbicara tentang noda-noda manusia lainnya, dan sebagainya dan sebagainya. Namun masing-masing diri bisa menilai puasa macam apa yang demikian itu.

Kesempurnaan puasa didapat dari ketulusan niat, keikhlasan hati, kesatuan tekad dan semangat untuk menggapai jalan kemuliaan menuju Sang Pencipta.  Kesuksesannya diraih bukan karena berhasil menahan tidak makan dan tidak minum serta tidak beraktivitas seksual, tetapi karena berhasil untuk tidak menurutkan “nafsu makan”, “nafsu minum”, atau “nafsu seksual”. Jadi fokusnya bukanlah makan atau minum atau nge-seksnya, melainkan nafsunya. Sebab itulah sejak dulu aktivitas puasa adalah perang melawan nafsu, karena kalau cuma tidak makan dan tidak minum, anak kelas tiga SD inprespun dapat melakukannya. Terserah pada masing-masing kita, apakah rela disamakan dengan anak SD inpres (tanpa pretensi untuk melecehkan anak SD inpres).

Meskipun Rasulullah SAW. Dalam Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim pernah bersabda, bahwa salah satu kegembiraan orang yang berpuasa adalah ketika tiba waktu berbuka, disamping ketika bertemu Tuhannya, namun hal itu tidak serta merta mengabsahkan perilaku sebagian pelaku puasa, yang ketika disebutkan tentang nafsu makan misalnya, asosiasinya adalah makan, bukan nafsunya. Karena itu ketika istrinya ke pasar, yang dibeli terutama adalah pesanan-pesanan nafsu, bukan kapasitas kebutuhan makan yang diperlukan.
Kenyataan yang terjadi menunjukkan bahwa setiap pelaku puasa pasti pernah mengalami kecenderungan untuk menimbun dan menumpuk makanan dan minuman dan setelah waktu berbuka tiba ia baru sadar bahwa ternyata perutnya tidaklah memerlukan makanan dan minuman sebanyak dan semewah yang ia kumpulkan.

Pelajaran yang didapat dari pengalaman semacam itu seharusnya adalah kesanggupan untuk memilah antara dorongan nafsu dengan kebutuhan makan. Perilaku puasa pada akhirnya bukanlah bertempur melawan “tidak boleh makan” atau “tidak boleh minum”, melainkan  melawan nafsu itu sendiri yang menuntut pengadaan lebih dari sekedar makanan atau minuman.

Karena aktivitas mengendalikan nafsu itu absolut urusan tiap-tiap pribadi, maka wajarlah bahwa puasa adalah aktivitas  vertikal antara seorang hamba dengan Tuhannya. Puasanya menjadi alat komunikasi langsung antara seorang manusia dan penciptanya. Puasa atau tidaknya ia, hanya diketahui dirinya sendiri dan Rabb-nya. Puasa menjadi ujian kesetiaan seorang hamba untuk menjadi kekasih sejati-Nya dan Anda tahu persis puasa seperti apa untuk urusan sebesar itu.

KISAH TEROMPAH NABI IDRIS



Nabiyullah Idris Alayhissalam dikenal amat shaleh, sabar dan paling shiddiq/membenarkan. Bisa dirujuk Al-Qur’an antaranya Surat Maryam : 56-57 dan Al-Anbiyaa : 85-86. Beliau suatu saat diundang Allah untuk melihat-lihat surga, namun dengan syarat harus mati terlebih dahulu. Nabi Idris setuju. Maka setelah dimatikan, Nabi Idrispun diizinkan Allah untuk masuk melihat-lihat surga tetapi hanya sementara, setelah itu harus keluar. Boleh tinggal di surga selamanya nanti, yaitu setelah masuk surga untuk kedua kalinya. Setelah dirasa cukup, maka Nabi Idris pun dipersilahkan untuk keluar dari surga. Setelah berada di luar surga, Nabi Idris berseru : “Ya Allah, aku lupa, terompahku tertinggal di dalam surga, izinkan aku masuk kembali untuk mengambilnya”. Allah pun mengizinkan, maka masuklah kembali Nabi Idris ke dalam surga untuk mengambil terompahnya yang tertinggal di dalam surga.



Tunggu punya tunggu, Nabi Idris tidak keluar juga, maka malaikat yang tadi mengantar keluar, masuk kembali untuk mencari beliau. Ternyata Nabi Idris sedang bersenang-senang di dalam surga. Malaikat mengajaknya keluar, tetapi Nabi Idris tidak mau. Maka malaikat melapor pada Allah.. Kata Allah : “Ya Idris, mengapa engkau tidak mau keluar?” Nabi Idris menjawab : “Ya Allah, bukankah Engkau telah mengatakan bahwa aku boleh tinggal di surga selamanya jika telah masuk surga untuk kedua kalinya? Bukankah aku masuk surga kali kedua ketika aku mengambil terompahku yang tertinggal ?. Allah tersenyum dan memuji Nabi Idris A.S.





Terompah Nabi Idris ini tentu saja tidak dapat kita temukan sekarang ini di bumi, karena telah berada di surga sejak saat itu. Jadi tidak bisa kita miliki. Yang bisa kita lakukan, kalau penasaran ingin melihat macam mana terompah Nabi Idris itu, ayo kita berusaha mendapat rahmat dan maghfirah Allah, sehingga kita dimasukkan ke dalam surga-Nya dan diberi kesempatan untuk melihat seperti apa terompah Nabi Idris a.s. tersebut.




Yang dapat saya pahami, sebuah terompah tetaplah terompah.. entah itu sepatu atau sendal, tidak akan memasukkan pemiliknya ke dalam surga. Yang dapat memasukkan seseorang ke dalam surga adalah rahmat Allah SWT. Namun jangan salah… terompah juga bisa menjadi indikasi, juga dapat menjadi sebab ridho ilahi.. misal menjadi indikasi, seperti Aa Gym bilang… Terompah itu tempatkan di kaki jangan di hati. Kalau ditempatkan di hati, terompah bagus membuat tinggi hati, lihat terompah orang lain lebih bagus jadi iri hati dan jika terompah bagusnya hilang jadi sakit hati lalu maki-maki setengah mati…
Kalau terompah jadi sebab ridho ilahi adalah kisah seorang wanita jalang yang memberi minum seekor anjing yang hampir mati kehausan dengan cara turun sumur, lalu mengisi terompahnya dengan air, lalu menggigitnya, lalu naik, lalu memberi minum anjing itu dengan air di terompah tersebut… terompah wanita ini juga menjadi buruan kolektor, tetapi nilainya di bawah terompah Nabi Idris A.S. 
Wallahu a’lam.

MENGENAL IBLIS DASIM YANG MENYUKAI PERCERAIAN


Jika Nabi Muhammad SAW dalam hadisnya mnegatakan bahwa perbuatan halal yang teramat dibenci Allah adalah cerai, bagi Iblis Dasim, perceraian merupakan sesuatu yang sangat disukainya. Mengapa demikian? Sebab ketika perceraian itu terjadi, Ia merasa semakin mudah menjerumuskan manusia menuju lembah kemaksiatan.
Untuk mewujudkan ambisinya , Iblis Dasim mencoba mempengaruhi suami istri untuk berbuat selingkuh. Biasanya ia menggoda istri-istri yang Sedang ditinggal kerja suaminya untuk berkhianat. Sedangkan bagi para suami, iblis ini akan mempengaruhi untuk melirik perempuan lain. Dan ketika suami itu telah berani melirik, iblis akan memberikan kesan bahwa perempuan tersebut lebih cantik dan menggairahkan daripada istrinya sendiri.

MERONGRONG KELUARGA
Trik lain yang dilakukan iblis Dasim ini adalah menghilangkan kehangatan rumah tangga dengan menuduh pasangannya telah berselingkuh. Iblis Dasim juga mencoba menghilangkan rasa saling memaafkan antara suami dan istri.
Iblis Dasim ini tidak akan berhenti mencoba merongrong kehangatan rumah tangga sebelum misinya tercapai. Setelah perceraian benar-benar terjadi, iblis menggunakan cara lain untuk menjerumuskan duda dan janda agar berlumur kemaksiatan.
Setidak-tidaknya orang yang sudah bercerai itu dapat dimanfaatkan oleh lblis Dasim untuk dijerumuskan ke dalam perbuatan hina, seperti zina dan sebagainya. Karena itu sudah tidak mempunyai tempat lagi untuk menyalurkan keinginannya secara halal sebagaimana hubungan suami istri.
Dari perselingkuhan itu, nantinya lahir bayi-bayi haram. Bayi tersebut nantinya akan tumbuh dalam keluarga yang berantakan karena tanpa didampingin oleh bimbingan sang ayah. Oleh karena itu, iblis Dasim sangat membenci rumah tangga yang rukun dan bahagia. Sampai kapan pun Iblis Dasim akan terus memporak-porandakan rumah tangga.
Karena itu, untuk mengantisipasi perceraian, agama Islam memberikan tuntunan kepada suami istri agar berpegang teguh pada Alquran dan hadis. Pernikahan dalam Islam merupakan ikatan suci yang menyatukan pria dan wanita dalam naungan Al-quran dan sunah dengan tujuan membentuk rumah tangga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. Bahkan Allah SWT menggambarkan hubungan suami istri dalam ikatan pernikahan seperti layaknya pakaian bagi satu sama lain. Dalam Al-Qur’an disebutkan “… mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka ….” (QS Al-Baqarah : 187)

LIBATKAN KELUARGA

Karena begitu agungnya pernikahan itu, pasangan suami istri harus berupaya menghindari jalan perceraian. Jika terdapat masalah serta hambatan dalam hubungan, mereka harus berupaya menyelesaikan segera perbedaan yang ada dan meminta bantuan dari saudara, teman, atau penasehat professional.
Jika terjadi percekcokan, libatkan keluarga dari masing-masing pihak. Allah berfirman dalam Al-Qur’an, “Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-istri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS An-Nisa : 35)