1

Sabtu, 22 Juni 2013

MEMBALAS KEBAIKAN ORANG LAIN

Berterima kasih atas pemberian orang lain adalah 

tanda bersyukur kepada Allah Ta’ala


عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ ».

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak bersyukur kepada Allah seorang yang tidak bersyukur kepada manusia.” HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, 1/702.

Berkata Al Khaththaby rahimahullah:
هذا يتأول على وجهين:
أحدهما: أن من كان طبعه وعادته كفران نعمة الناس وترك الشكر لمعروفهم كان من عادته كفران نعمة الله تعالى وترك الشكر له.
والوجه الآخر: أن الله سبحانه لا يقبل شكر العبد على إحسانه إليه إذا كان العبد لا يشكر إحسان الناس ويكفر معروفهم. اهـ

“Hadits ini ditafsirkan dengan dua makna:
Pertama: “Bahwa barangsiapa yang tabiat dan kebiasaannya adalah kufur terhadap nikmat (kebaikan) orang dan tidak bersyukur atas kebaikan mereka, maka niscaya termasuk kebiasaannya adalah kufur terhadap nikmat Allah Ta’ala dan tidak bersyukur kepada-Nya.
Kedua: “Bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak menerima syukurnya seorang hamba atas kebaikan-Nya kepadanya, jika seorang hamba tidak bersyukur kepada kebaikan orang lain dan kufur terhadap kebaikan mereka.”  Lihat kitab Sunan Abu Daud dengan Syarah Al Khaththaby, 5/ 157-158.


Beberapa cara membalas kebaikan dan pemberian orang lain


  1. Membalas pemberian tersebut
  2. Memuji orang tersebut
  3. Mengucapkan Jazakallah khairan kepada orang tersebut
  4. Mendoakan orang tersebut
Perhatikan hadits-hadits berikut:
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ أُعْطِىَ عَطَاءً فَوَجَدَ فَلْيَجْزِ بِهِ فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيُثْنِ بِهِ فَمَنْ أَثْنَى بِهِ فَقَدْ شَكَرَهُ وَمَنْ كَتَمَهُ فَقَدْ كَفَرَهُ ».
Artinya: “Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang diberikan sebuah hadiah, lalu ia mendapati kecukupan maka hendaknya ia membalasnya, jika ia tidak mendapati maka pujilah ia, barangsiapa yang memujinya, maka sungguh ia telah bersyukur kepadanya, barangsiapa menyembunyikannya sungguh ia telah kufur.” HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, no. 617.
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَنْ أَتَى إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ فَلْيُكَافِئْ بِهِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَلْيَذْكُرْهُ فَمَنْ ذَكَرَهُ فَقَدْ شَكَرَهُ وَمَنْ تَشَبَّعَ بِمَا لَمْ يَنَلْ فَهُوَ كَلاَبِسِ ثَوْبَىْ زُورٍ ».
Artinya: “Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang diberikan kepadanya sebuah kebaikan, hendaklah ia membalasnya dan barangsiapa yang tidak sanggup maka sebutlah (kebaikan)nya, dan barangsiapa yang menyebut (kebaikan)nya, maka sungguh ia telah bersyukur kepadanya dan barangsiapa yang puas dengan sesuatu yang tidak ia miliki, maka ia seperti seorang yang memakai pakaian palsu.” HR. Ahmad dan dihasankan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih At Taghib Wa At Tarhib, no 974.
عَنْ أَنَسٍ قَالَ: قَالَتِ الْمُهَاجِرُونَ: يَا رَسُولَ اللهِ، ذَهَبْتِ الْأَنْصَارُ بِالْأَجْرِ كُلِّهِ، مَا رَأَيْنَا قَوْمًا أَحْسَنَ بَذْلًا لَكَثِيرٍ، وَلَا أَحْسَنَ مُوَاسَاةٍ فِي قَلِيلٍ مِنْهُمْ، وَلَقَدْ كَفَوْنَا الْمُؤْنَةَ؟ قَالَ: «أَلَيْسَ تُثْنُونَ عَلَيْهِمْ بِهِ، وَتَدْعُونَ اللهَ لَهُمْ؟» قَالُوا: بَلَى قَالَ: «فَذَاكَ بِذَاكَ»
Artinya: Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: Berkata Kaum Muhajirin: “Wahai Rasulullah, kaum Anshr pergi dengan (membawa) pahala seluruhnya, kami tidak pernah melihat suatu kaum yang lebih baik pemberiannya dengan sangat banyak, tidak pernah lebih baik tengga rasanya dala perihal yang sedikit dibandingkan mereka, mareka telah mencukupkan kebutuhan kami?”, beliau bersabda: “Bukankah kalian telah memuji mereka atas itu dan berdoa kepada Allah untuk mereka?”, mereka menjawab: “Iya”, beliau berkata: “Maka itu dengan dengan itu.” HR. An Nasai di dalam Sunan Al Kubra dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih At Taghib Wa At Tarhib, no 977.
عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ فَقَالَ لِفَاعِلِهِ جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا فَقَدْ أَبْلَغَ فِى الثَّنَاءِ ».
Artinya: “Usamah bin Zaid berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang dibuatkan kepadanya kebaikan, lalu ia mengatakan kepada pelakunya: “Jazakallah khairan (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), maka sungguh ia telah benar-benar meninggikan pujian.” HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Al jami’, no. 6368.
Berkata Muhammad Syamsul Haq Al Azhim Abady;

فَدَلَّ هَذَا الْحَدِيث عَلَى أَنَّ مَنْ قَالَ لِأَحَدٍ جَزَاك اللَّه خَيْرًا مَرَّة وَاحِدَة فَقَدْ أَدَّى الْعِوَض وَإِنْ كَانَ حَقّه كَثِيرًا. انتهى.
“Hadits ini menunjukkan bahwa barangsiapa yang mengucapkan kepada seseorang “Jazakallah khairan” sekali, sungguh ia telah menunaikan gentian, meskipun haknya banyak.” Lihat kitab ‘Aun al Ma’bud.
Berkata Al Munawi rahimahullah:

(إذا قال الرجل) يعني الإنسان (لأخيه) أي في الإسلام الذي فعل معه معروفا (جزاك الله خيرا) أي قضى لك خيرا وأثابك عليه : يعني أطلب من الله أن يفعل ذلك بك (فقد أبلغ في الثناء) أي بالغ فيه وبذل جهده في مكأفاته عليه بذكره بالجميل وطلبه له من الله تعالى الأجر الجزيل ، فإن ضم لذلك معروفا من جنس المفعول معه كان أكمل هذا ما يقتضيه هذا الخبر ، لكن يأتي في آخر ما يصرح بأن الاكتفاء بالدعاء إنما هو عند العجز عن مكافأته بمثل ما فعل معه من المعروف.
ثم إن الدعاء المذكور إنما هو للمسلم كما تقرر ، أما لو فعل ذمي بمسلم معروفا فيدعو له بتكثير المال والولد والصحة والعافية

“(Jika seorang mengatakan) yaitu seorang manusia (kepada saudaranya) yaitu persaudaraan Islam yang telah berbuat kepada kebaikan (jazakallah khairan) yaitu semoga Allah menentukan kebaikan untukmu dan memberikan pahala atasnya, yaitu aku memohon dari Allah untuk melakukan itu denganmu (maka sungguh ia telah melebihkan di dalam pujian) yaitu ia telah berbuat lebih di dalam pujian itu dan telah mengerahkan usahanya di dalam pembalasannya terhadapnya dengan menyebutkannya dengan kebaikan dan permintaanya untuknya dari Allah Ta’ala pahala yang besar, dan jika digabungkan hal itu dengan jenis apa yang telah ia lakukan kepadanya, niscaya ini akan lebih sempurna apa yang disebutkan oelh riwayat ini, tetapu disebutkan di akhir hadits, yang menjelaskan bahwa mencukupkan dengan doa, maka sesungguhnya ini adalah ketika tidak sanggup untuk membalas seperti apa yang telah ia lakukan kebaikan kepadanya. Kemudian sesungguhnya doa yang disebutkan di dalam hadis hanya untuk seorang muslim sebagaimana yang telah ditetapkan, adapun kalau ada seorang kafir berbuat kebaikan kepada seorang muslim maka ia mendoakannya agar mendapatkan harta, anak, kesehatan dan ‘afiyah.” Lihat kitab Faidh Al Qadir, 1/526.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم- « مَنِ اسْتَعَاذَ بِاللَّهِ فَأَعِيذُوهُ وَمَنْ سَأَلَ بِاللَّهِ فَأَعْطُوهُ وَمَنْ دَعَاكُمْ فَأَجِيبُوهُ وَمَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ ».
Artinya: “Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang meminta perlindungan dengan menyebut nama Allah maka lindunglah ia, barangsiapa yang meminta dengan menyebut nama Allah maka berilah ia, barangsiapa yang mengundang kalian maka hadirilah (undangannya), dan barangsiapa yang berbuat kepada kalian kebaikan maka balaslah, jika ia tidak mendapati sesuatu untuk membalasnya, maka doakanlah ia, sampai kalian melihat bahwa kalian sudah membalasnya.’ HR. Abu Daud. Wallahu a’lam. Semoga terjawab pertanyaan pada judul dan semoga bermanfaat.

Rabu, 19 Juni 2013

PINTU TAUBAT MASIH TERBUKA


وَمَن تَابَ وَعَمِلَ صَالِحاً فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَاباً
“Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.”
[QS: Al-Furqan, 25: 71]

SESUNGGUHNYA tidak ada yang setengah-setengah dalam agama, semua yang haq dan bathil telah dijelaskan secara rinci dalam al-Qur’an dan al-Hadits. Karena itu, jika manusia ingin melaksanakan syari’at agama hendaknya bersikap total, sepenuhnya diamalkan.

Masalahnya, ajakan dan perintah yang cukup jelas itu kadang menjadikan makhluk yang bernama manusia tidak sempat untuk menangkap hikmah dan manfaat kini. Orang menjadi serius dengan kesibukan tertentu, dan lalai dalam melaksanakan ajakan dan perintah itu.
Di sisi lain, agama ini memberikan ‘rambu-rambu’ kehidupan yang jelas, dan larangan adalah garis yang tidak dapat diterjang oleh siapapun. Tanpa terkecuali. Betapa Islam tidak memberikan perlakuan yang bersifat ‘pilih kasih’ dalam soal tatanan dan aturan hidup.

Sering kali ungkapan yang diajukan adalah karena saya manusia, tempat lupa dan salah. Ada lagi yang menganggap mumpung masih muda, dipuas-puaskan. Yang lain lagi mengatakan bahwa saya ini sudah terlanjur banyak berbuat maksiat. Mungkin masih banyak yang ingin menunjukkan mengapa tidak segera keluar untuk menemukan jalan baru, taubat. Semakin dicari alasan semakin tidak akan pernah terjadi pertaubatan. Dan menuruti hawa nafsu tidak akan pernah ada ujungnya.

Salah dan Dosa

Menurut pandangan Islam, dosa dibagi dua; dosa besar dan dosa kecil. Allah berfirman:
إن تجتنبوا كبائر ما تنهون عنه نكفّر عنكم سيّئاتكم وندخلكم مدخلا كريما
“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).” (QS:An-Nisa’, 4: 31)
Dalam ayat lain disebutkan:
الذين يجتنبون كبائر الإثم والفواحش إلا اللّمم إنّ ربّك واسع المغفرة
“(Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha luas ampunanNya.” (QS: An-Najm, 53: 32)

Perbuatan dosa, baik besar maupun kecil, merupakan sebab utama kesengsaraan manusia. Dosa itu berdampak negatif pada diri pelakunya; keresahan, keterpurukan, bahaya kesehatan, akal, dan pekerjaan. Dampak lain berupa menghilangnya rasa persatuan, keguncangan maupun keributan pada masyarakat.

Hanya para Nabi dan Rasul saja yang terjaga (ma’shum). Tidak ada satu dosapun yang dilakukan oleh mereka alaihissalam. Allah Ta’ala memberikan perlakuan khusus kepada hamba-hamba-Nya itu. Jika terdapat di antara kita yang mengaku bebas dari kesalahan, sok suci, bebas dari setitik salah, tentu bukanlah pengakuan, mungkin lebih dekat kepada canda atau mengingatkan kita dengan logika terbalik. Artinya, sadar atau tidak, ya kita pernah berbuah salah.

Terdapat sebuah analogi bahwa salah itu seperti kotoran. Tergantung pada kecerdasan orang untuk dapat mengelolanya. Jika orang mampu menjadikan kesalahan untuk mendekat kepada Allah Ta’ala, untuk bertaubat kepada-Nya, maka kesalahan itu sebenarnya bukan kesalahan melainkan itu bentuk saluran rahmat dari Allah.

Rasulullah Muhammad pernah bersabda “Setiap anak manusia pernah melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang mau bertaubat.” Hadits inilah yang dijadikan landasan untuk menyadari adanya kebaikan dari setiap keburukan, sehingga orang yang berbuat salah tidak berlama-lama menikmati kemaksiatan yang membawa kehancuran.
Argumen Itu selalu orang bertanya tentang alasan dalam mengerjakan sesuatu, atau paling tidak orang berpikir tentang maksud ataupun tujuan melakukan hal yang diperintahkan. Tidak ada suatu perintah yang tidak dapat dilakukan oleh makhluk. Semua perintah yang Allah Ta’ala tetapkan merupakan indikator adanya kemampuan makhluk untuk mengerjakannya. Pun bila terdapat larangan-Nya, sebenarnya tidak seorangpun yang tidak dapat meninggalkannya. Betapa larangan itu lebih dekat kepada hawa nafsu yang mendominasi pribadi seseorang, sehingga larangan pun diterjang.

Panggilan bertaubat sering dikumandangkan, hanya soal indera pendengaran saja yang bermasalah. Mendengar tetapi tidak fokus pada inti yang disampaikan. Mungkin bisa saja mendengar, tetapi menerima panggilan tersebut adalah soal lain.Jika nafas masih ada, itu tandanya masih terbuka kesempatan untuk bertaubat. Jika ada yang merasa kotor, terlanjur banyak maksiat dan dosa, itu tandanya diperintahkan untuk membersihkan diri, bertaubat. Jika orang sudah tahu dirinya kotor, berlumur lumpur, lantas ‘mandi’, lalu menceburkan diri dalam kubangan lumpur, itu berarti “nekad”. Orang yang berbuat dosa dan maksiat, sudah bertaubat, lalu menjerumuskan diri lagi, ini berarti belum menyadari dan sadar diri yang sesungguhnya.
Pertanyaanya, “mengapa harus bertaubat?”.

Adalah awal yang baik bagi orang yang sadar akan maksiat dan bahayanya. Kesadaran untuk menjawab pertanyaan tersebut menjadi tonggak penting dalam perubahan seseorang yang ‘biasa’ berlaku maksiat untuk berubah dan menjadi ‘diri’ yang baru.

Amru Khalid, dalam Hatta Yughayyiru ma bi Anfusihim, menyebutkan 15 efek buruk dari maksiat, di antaranya: murka Allah, kebencian orang mukmin, penghalang datangnya rezeki, penghalang memperoleh ilmu, cobaan yang berat, merasa terasing dari Allah, merasa terasing dari lingkungan, hati yang gelap dan raut muka yang suram, terhalang melakukan ketaatan, hasrat untuk mengerjakan kemaksiatan lain, kehinaan di sisi Allah, kehinaan di dalam hati, melemahkan akal, petaka akibat maksiat, dan mulut pelaku maksiat akan berkhianat pada dirinya.
Argumen yang sahih ditemukan oleh para pelaku maksiat adalah dalam firman Allah:
إنّما التوبة على الله للّذين يعملون السّوء بجهالة ثم يتوبون من قريب فأولئك يتوب الله عليهم وكان الله عليما حكيما
“Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera. Maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa’, 4: 17).
Pada ayat di atas, yang dimaksud mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan adalah: 1. orang yang berbuat maksiat dengan tidak mengetahui bahwa perbuatan itu adalah maksiat kecuali jika dipikirkan lebih dahulu; 2. orang yang durhaka kepada Allah baik dengan sengaja atau tidak; 3. orang yang melakukan kejahatan karena kurang kesadaran lantaran sangat marah atau Karena dorongan hawa nafsu.
Saatnya Kembali
Dalam Al-Khathaya fi Nadzril Islam disebutkan bahwa taubat mencakup tiga syarat: (a) meninggalkan perbuatan dosa; (b) menyesali perbuatannya; (c) bertekad tidak akan melakukannya kembali. Salah satu unsur penting dalam taubat adalah adanya rasa penyesalan. Rasa penyesalan ini mempunyai pengaruh besar dalam merubah sikap seseorang dari keadaan jelek menjadi baik.

Manusia lahir dalam keadaan suci, fitrah. Jika manusia mengotori fitrahnya itu lantaran hawa nafsu yang menguasai dirinya, hingga orang lalai, salah, berbuat dosa atau maksiat, maka kesempatan untuk membersihkan diri masih terbuka dan selalu dibuka untuk siapa saja yang mau kembali, kembali ke jalan yang benar. Selama hayat masih dikandung badan, bertaubat masih diterima. Namun bila orang menunda-nunda, mengulur waktu, tidak mau bersegera untuk bertaubat, maka suatu saat nyawa akan meregang dari raga tanpa warning, dan datangnyapun tiba-tiba.

Jika panggilan taubat tidak lagi dihiraukan, waspadalah bahwa Malaikat Izrail bisa kapan saja dan dimana saja mencabut nyawa, tentunya Izrail bertindak setelah adanya instruksi Sang Khaliq. Maka waspadalah terhadap mati su’ul khatimah (akhir yang buruk).
Upaya untuk kembali ke jalan yang lurus hendaknya diupayakan semaksimal mungkin. Perjuangan untuk taubat ini mengandung nilai yang positif bagi perbaikan pribadi dan bukti penghambaan kepada Yang Maha Pengampun. Jika orang yang bertaubat sudah kembali ke dalam naungan cahaya ilahi, ia pantang kembali kepada kemaksiatan. Maka diperlukan cara jitu untuk menepis keinginan untuk bermaksiat, yaitu (i) bergaul dengan orang saleh; (ii) membiasakan diri beramal saleh. Di sinilah pentingnya lingkungan yang baik, yang mendukung berseminya kemaslahatan dan perbaikan serta kebermaknaan hidup di bawah ridha Allah Ta’ala.

PERSIAPAN UNTUK MENITI SHIRAT

UMUMNYA orang memahami masa depan hanya sebatas usia tua. Tidak heran jika banyak orang mati-matian mengumpulkan uang sejak muda dengan harapan hidup berlimpah harta di masa tuanya. Bahkan, kalau perlu kekuasaan tetap berada di tangan keturunannya. 



Sekiranya, cara mendapatkannya halal, tentu tidak mengapa. Persoalannya adalah ketika pengumpulan harta itu dilakukan dengan cara-cara curang dan haram. Tentu ini suatu kecelakaan besar. Jangankan di akhirat, di masa tua di dunia pun pasti akan sengsara. Lihatlah nasib Fir’aun, Haman, Qarun, Namrudz dan yang lainnya. Seperti jamak diketahui, sekarang ini demi sebuah posisi atau jabatan, sebagian orang sangat mudah berjanji dan sering tidak menepatinya tanpa sedikitpun ada penyesalan. Lain di bibir lain di hati.

Di depan orang bertindak seperti orang baik, di belakang sering mengabaikan perintah agama. Gemar sekali bermaksiat, menipu, menggunjing, dan menebar berita yang tidak jelas kebenarannya. Termasuk tidak segan-segan memfitnah saudara sendiri jika dianggap menghambat perjalanan karir atau mengancam posisinya. Sementara itu, tradisi yang dibangun setiap hari dan malamnya hanyalah ke kafe, hotel, dugem, dan pesta-pesta tiada henti. “Semua itu demi masa depan,” dalihnya.

Padahal, mengacu pada sumber hadits Nabi, di akhirat nanti, setiap manusia harus melintasi yang namanya shirath (jembatan) yang menjadi penentu nasib setiap jiwa bisa masuk surga atau terjun ke neraka. Oleh karena itu, Ibn Athaillah sangat heran kepada tingkah laku kebanyakan manusia yang heboh mengejar dunia dan tertawa-tawa seolah telah peroleh kebahagiaan akhirat. Di depan manusia bertingkah laku baik, di belakang sering melupakan aturan Allah.
Melintasi Shirath 
Dalam kitabnya Tajul Arus, Ibn Athaillah berkata, “Kau tertawa terbahak-bahak seakan-akan telah melewati jembatan (shirath) dan menyeberangi neraka. Jika kau tidak menjaga sikap wara’ kepada Allah yang bisa mencegah dari maksiat ketika sendiri, taburkan tanah ke atas kepala sebagaimana Nabi Muhammad shallallahu alayhi wasallam bersabda, “Barangsiapa tidak memiliki sikap wara’ yang bisa mencegahnya dari maksiat ketika sendiri, Allah sama sekali tidak akan memedulikan amalnya.” (HR. Al-Daylami). 

Shirath sebagaimana dijelaskan dalam hadits Nabi adalah jembatan di atas Jahannam. Dalam shahih Bukhari Muslim disebutkan, “Jembatan Jahannam dibentangkan dan aku yang pertama kali melewatinya. Doa para rasul ketika itu adalah: ‘Ya Allah, selamatkan!’Pada jembatan itu terdapat jangkar-jangkar seperti duri sa’dan. Tahukah kalian, apakah duri sa’dan itu? Para sahabat menjawab, ya.Beliau melanjutkan, “Ia bagaikan duri sa’dan, hanya saja tidak ada yang mengetahui besarnya kecuali Allah. Ia akan menarik manusia sesuai dengan amal perbuatan mereka. ada yang selamat ada pula yang merangkak kemudian selamat.” (HR. Bukhari).

Jadi, satu hal yang mestinya menjadi perhatian setiap orang beriman adalah bagaimana kira-kira nasibnya di akhirat nanti, terutama ketika harus melewati shirath. Karena shirath ini adalah media penentu dari Allah seseorang masuk surga atau terjungkal ke dalam neraka.

Sungguh, kita tidak pernah bisa mengetahui, apalagi memastikan, apakah amal yang kita lakukan termasuk amal yang diterima, jiwa kita adalah jiwa yang takwa, atau justru masuk kelompok manusia yang celaka.Oleh karena itu, kita patut bertanya dalam diri, sebagaimana Hasan bin Ali radhiyallahu anhu berkata, “Aku takut ketika sebagian dosaku terlihat kemudian Allah berkata, ‘Dosamu tidak diampuni.”
Rasa depan manusia yang harus menyeberangi shirath itulah yang kemudian mendorong Rasulullah Shallallahu alayhi wasallam bersabda, “Seandainya kalian mengetahui apa yang kuketahui, tentu kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis,” (HR. Bukhari).Artinya, kita harus benar-benar mengimani hari akhir, dengan bersegera melakukan segala amal sholeh dan menjauhi perbuatan yang merusak. Berlomba-lomba menyiapkan bekal takwa menuju Allah agar kelak mendapat rahmat dari-Nya dan bisa menyeberang di atas shirath dengan selamat hingga ke surga. 

لَا يَسْتَوِي أَصْحَابُ النَّارِ وَأَصْحَابُ الْجَنَّةِ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَائِزُونَ


“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Firman-Nya tentang Hari Esok (QS. Al Hasyr [59]: 20).

Ibn Katsir dalam tafsir ayat tersebut menyebutkan riwayat yang disampaikan oleh Imam Ahmad dari Al-Mundzir bin Jabir, yang secara inti memaparkan pengalaman Rasulullah melihat suku Mudhar yang sangat miskin, hingga tak beralas kaki dan tidak berpakaian. 

Melihat hal tersebut, kemudian Rasulullah berkhutbah, “Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah yang telah menciptakan kalian dari jiwa yang satu (sampai akhir ayat). Lau beliau membaca ayat tersebut hingga tuntas, kemudian menambahkan, ‘…meskipun hanya dengan satu belah kurma.

Mendengar khutbah itu, seorang sahabat Anshar datang membawa satu kantong, hampir saja telapak tangannya tidak mampu mengangkatnya, bahkan memang tidak mampu. Lalu orang-orang pun mengikuti sehingga aku melihat dua tumpukan dari makanan dan pakaian, sehingga aku melihat wajah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam berseri-seri bagaikan disepuh emas. 
Maka, menurut Ibn Katsir hari esok itu atau masa depan itu hanya tepat jika kita persiapkan dengan banyak beramal sholeh, bersegera membantu saudara yang lain yang sangat berhajat terhadap kebutuhan hidup, walau hanya dengan separuh biji kurma. Kemudian menjauhi seluruh bentuk larangan-Nya. Dengan demikian perbanyaklah intropeksi diri (muhasabah). Lihatlah apa yang telah kita tabung untuk akhirat kita sendiri utamanya ketika bertemu dengan Rabb kita semua. Jangan sampai kita lupakan hal yang sebenarnya tidak lama lagi akan kita jumpai dalam perjalanan panjang kehidupan akhirat.

Mulai sekarang, berhentilah bergantung pada harta, jabatan, dan kekuasaan. Semua itu tidak akan berarti apa-apa tanpa iman, takwa dan amal sholeh. Justru siapapun kita, pada dasarnya sangat berpotensi mendapatkan masa depan yang baik bahkan sangat-sangat baik, asalkan, senantiasa menjaga dan meningkatkan kualitas takwa kepada-Nya dan banyak melakukan amal sholeh untuk kemaslahatan bersama

Selasa, 18 Juni 2013

KEAGUNGAN MUKZIJAT AL QUR'AN

Tidak ada kitab pegangan umat sepanjang sejarah yang kesucian dan kemurniannya senantiasa terjaga dari noda hitam tangan-tangan jahil yang ingin mengotori kitab suci tersebut dengan begitu picik dan congkak, kecuali Al-Quran yang tetap suci terjaga di benteng hati umat. Hanya kitab ini yang cahayanya dari hari ke hari semakin kuat menyinari kegelapan hati yang tertutup oleh kebodohan, fanatik, dan keangkuhan dari cahaya kebenaran hakikat-hakikat ketuhanan yang dibiaskan lembaran-lembaran kitab alam semesta ini.
Semakin kuat mereka menutupi cahaya hakikat-hakikat Al-Quran, semakin kuat juga pancaran cahayanya keluar dari sela jari-jemari mereka. Semakin kuat mereka membendung arus kebenarannya, semakin kuat pula arusnya menghantam dinding-dinding keyakinan dan filsafat hidup mereka. Yah, sejak hari pertama Al-Quran turun hingga kini, ia senantiasa terjaga dan menjaga siapa saja dari mereka yang ingin mendekatkan dirinya di benteng keimanan penjagaannya, seperti jaminan Allah yang ditegaskan dengan begitu jelas dan kuatnya.

Sebelum Anda terlalu jauh diajak melihat sisi-sisi keistimewaan mukjizat Al-Quran, Anda diminta melihat buah pikir mereka yang ingin melucuti Al-Quran dari kemukjizatan estetika dan sistematikanya.
Yang diyakini bersama, Al-Quran dikatakan mukjizat karena tidak mampu ditandingi oleh para ahli sastra dan ilmuwan untuk mendatangkan Qur’an tandingan yang mampu menyamai atau menyaingi derajat keindahan dan ketinggian bahasa Al-Quran, kitab penyejuk kalbu umat dari segala penyakit maknawi yang merongrong kekuatan iman dalam menahkodai kehidupan.
Yang menjadi pertanyaan, kekuatan maknawi Al-Quran ini, apakah lahir dari zat Al-Quran sendiri atau mungkin saja ada faktor lain yang datang dari luar zat Al-Quran sehingga mereka tersungkur lemah mengakui kekalahan di medan tanding tersebut? Seseorang dikatakan punya kekuatan luar biasa jika terlihat otot-otot tubuhnya bekerja terpadu dan berirama menciptakan energi, dan tentu mustahil, bahkan jadi bahan tertawa, jika kekuatan luar biasa itu Anda kembalikan ke orang lain yang hanya diam melihat terpaku kekuatan tersebut. Olehnya itu, di saat Abu Izhaq An-Nadzzam Ibrahim bin Yasar, salah satu imam Mu’tazilah, pendiri jamaah An-Nidzamiyyah, lebih menitikberatkan kemukjizatan Al-Quran pada ayat-ayat gaib, dan mengabaikan estetika dan sistematika Al-Quran sebagai salah satu corak kemukjizatan yang paling nampak dan terang dengan alasan bahwa manusia mampu mencapai tingkat kemukjizatan sistematika tersebut, seandainya Allah tidak mengangkat dari mereka kemampuan tanding, di saat An-Nadzzam menyatakan demikian, dengan mudah para pecinta Al-Quran dari ahli tahkik menolak pernyataan ini. Yang demikian itu karena Abu Izhaq an-Nadzam menyalahi kesepakatan ahli ilmu-ilmu Al-Quran yang mengembalikan kemukjizatan Al-Quran ke zatnya sendiri.
Berikut ini perkataan An-Nadzzam sebelum memberikan jawaban meyakinkan yang kedua kalinya, beliau berkata:
“Keajaiban Al-Quran terletak di berita-berita ghaibnya. Adapun susunan dan sistematikanya masih dalam batas kemampuan hamba untuk meniru dan menandinginya, seandainya saja Allah SWT tidak mencegah mereka dengan menciptakan kelemahan dalam diri mereka.”([1])
Lanjutnya, beliau mempertegas pernyataannya dengan mengatakan:
“Sistematika Al-Quran dan keindahan penempatan kalimatnya bukanlah mukjizat Rasulullah Saw, dan bukan bukti atas kebenaran dakwahnya, tetapi, yang menjadi bukti kebenarannya adalah ayat-ayat gaib. Sekali lagi, sistematika Al-Quran dan keindahan rangkaian ayat-ayatnya bukanlah mukjizat, sesungguhnya hamba-hamba Allah mampu mendatangkan yang serupa dengannya, bahkan yang lebih indah darinya.”([2])
Setelah Anda mengetahui salah satu sisi kelemahan pernyataan ini, Anda diajak yang kedua kalinya mengetahui titik lain dari kelemahan dan kerapuhannya. Kesimpulan ini roboh dan runtuh karena mengerucutkan kemukjizatan Al-Quran pada ayat-ayat gaib dan menjatuhkan dari ayat-ayat lain corak-corak kemukjizatan, seperti: kemukjizatan ayat-ayat hukum, ayat-ayat ilmiah yang mengisyaratkan hakikat-hakikat ilmu pengetahuan, ayat-ayat akhlak social, dan kemukjizatan sistematikanya yang memukau. Di samping itu, ayat-ayat gaib jumlahnya tidak terlalu banyak dilihat dari jumlah ayat-ayat lain Al-Quran.([3])
Bukan hanya itu, penulis pun menangkap kelemahan lain pernyataan tersebut. Yang demikian itu karena seandainya kemukjizatan sistematika Al-Quran datang dari kelemahan yang Allah ciptakan dalam diri mereka, kenapa Allah menantang mereka dengan begitu terangnya untuk mendatangkan Qur’an serupa yang mendekati atau menyamai tingkat keindahan estetika dan sistematikanya, seperti di Q.S Al-Baqarah [2]: 23? Tentunya, aneh dan mustahil jika Allah menantang mereka dengan tantangan seperti itu, kemudian mencabut dari mereka kekuatan tantangan yang dapat memberikan tandingan. Bukankah itu pekerjaan sia-sia yang Allah Maha Suci darinya?
Kini, saya mengajak Anda melihat penegasan kemukjizatan estetika dan sistematika Al-Quran yang diingkari kebenarannya oleh An-Nadzzam.
Al-Jahidz berkata:
“Di antara mereka ada yang menggunakan kata-kata bukan pada tempatnya, sementara itu, di sana ada kata lain yang lebih tepat darinya. Apakah Anda tidak melihat Allah tidak dijumpai menyebutkan di Al-Quran kata (الجُوْع) kecuali untuk memaknai azab penyiksaan yang menimpa orang-orang kafir, atau untuk mewakili makna kefakiran yang melilit dan kelemahan mutlak. Sementara itu, manusia menempatkannya bukan pada tempatnya, mereka menggunakan kata ini dan bukan kata (السّغَب) di kondisi aman dan kuat. Bukankah ini menyalahi penempatan kata yang semestinya, seperti penempatan kata Al-Quran yang tepat. Demikian pula dengan kata (المَطَر) yang berarti hujan. Al-Quran tidak menyebutkannya kecuali ditempatkan di makna azab penyiksaan, sementara itu, orang awam bahkan masyarakat berpendidikan tidak membedakan penggunaan kata itu dengan kata (الغَيْث) yang berarti hujan yang membawa rahmat, bukan hujan azab. Kemudian, Al-Quran jika menyebut (الأبْصَار) yang berarti penglihatan, ia menyebut pendengaran dalam bentuk tunggal (السَّمْع), dan jika menyebut tujuh lapisan langit (سَبْعُ سَماَوَات), ia menyebut bumi dengan bentuk tunggal (الأرْض). Apakah Anda tidak melihat perbedaan ini, bahasa manusia yang menyalahi bahasa Al-Quran yang tidak menempatkan kata, kecuali kata itu tepat mewakili makna yang diinginkan dan tidak dapat diganti dengan kata lain?”([4])
Hematnya, Al-Quran tidak memilih kata tertentu dalam mewakili sebuah pemaknaan, kecuali hanya kata itulah yang tepat ditempatkan. Yang demikian itu karena hanya kata itu yang mampu menjaga keutuhan makna bagian-bagian sistematika Al-Quran. Keutuhan makna yang mengalir hidup di seluruh bagian sistematika Al-Quran, dari kalimat ke kalimat, dari kelompok ayat ke kelompok ayat lain, dari tema ke tema, dari surah ke surah, seperti aliran darah yang tidak henti-hentinya mengalir di sel-sel darah manusia.
Anda dapat melihat penegasan makna tersebut di pernyataan Syekh Ibn Atiyyah berikut ini:
“Sisi terkuat tantangan Al-Quran adalah sistematika, keshahihan makna, dan kefasihan kosa katanya. Yang demikian itu karena ilmu Allah meliputi segala sesuatu. Allah mengetahui kata mana yang tepat untuk datang menyertai kata pertama dalam merangkai makna demi makna dari awal Al-Quran hingga akhir. Dan karena manusia dengan keterbatasan, kebodohan, lupa, dan kelemahan ilmunya meliputi segala sesuatu, sementara itu, sistematika Al-Quran datang dengan derajat estetika yang tinggi menjulang, sehingga jelas kesalahan perkataan mereka: (orang-orang Arab mampu mendatangkan yang serupa dengan Al-Quran, namun kekuatan mereka dicabut, sehingga mereka lemah tidak berdaya menandingi Al-Quran).
Yang benarnya, tidak ada satu pun yang mampu mendatangkan Qur’an tandingan. Yang demikian itu jika Anda meyakini kelemahan mutlak manusia tanpa terkecuali dan melihat bagaimana orang fasih menyusun khutbah atau bait syair dengan sekuat tenaga, kemudian ia senantiasa memperbaiki bagian-bagiannya setahun penuh, kemudian Anda menyodorkannya ke yang lain dan ia pun masih mengoreksi dan memperbaiki, dan begitulah seterusnya. Adapun Al-Quran, perbedaannya sangat jauh dengan kreasi-kreasi sastra manusia. Jika Anda ingin membuang satu kata dari ayat-ayatnya dan menggantinya dengan kata lain, yakinlah Anda tidak akan menemukan kata lain yang lebih tepat darinya dilihat dari sistematika pemaknaan yang ada.”([5])
Ini pun dapat Anda simak di pernyataan Dr. Mustafa Muslim berikut ini:
            “Setiap kata dalam sebuah struktur kalimat saling menyesuaikan diri, Semuanya memberikan kadar tertentu terhadap makna umum dari kalimat tersebut. Olehnya itu, jika makna yang diinginkan baru dan asing dari yang lumrah diketahui, maka katanya pun kedengaran asing dan tidak lumrah, dan apabila makna yang diinginkan lumrah, dia pun mendatangkan kata yang sesuai.”([6])
Akurasi deskripsi ini dapat dilihat dalam penafsiran Ustadz Nursi pada firman Allah SWT:
وقَالَ تَعَالَى: )يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ مِنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ( (Q.S. Al-Baqarah [2]: 19)
            “Al-Qur’an datang dengan kata (يَجْعَلُوْنَ), bukan dengan (يُدْخِلُوْنَ), sebagai isyarat bahwa sesungguhnya orang-orang kafir senantiasa mencari sebab keselamatan, tidak ada satu sebab keselamatan yang mereka kira, kecuali pintunya diketuk.
            Selanjutnya, kata (أَصَابِعَهُمْ), dan bukan dengan (أَنَامِلَهُمْ), sebagai tanda bahwa mereka diliputi kebingungan yang dahsyat terhadap perkara diri mereka sendiri.
            Lain halnya dengan kata (فِىْ آذَانِهِمْ) dan bukan anggota tubuh lain, sebagai gambaran hidup yang memperlihatkan ketakutan mereka yang berlebihan setiap kali mendengar suara guntur, ketakutan jiwa yang melihat gemuruh suara tersebut seperti punya kemampuan menerbangkan ruh mereka lewat mulut, jika ia masuk di gendang telinga.
            Adapun kata (مِنَ الصَّوّاعِق), dan bukan kata lain, sebagai isyarat bahwa antara petir dan guntur bersatu padu memberikan mudarat kepada mereka. Yang demikian itu karena kata (الصَّاعِقَة) itu sendiri artinya gemuruh suara yang disertai dengan api yang menghanguskan apa saja yang diterpainya.
            Selanjutnya, kata (حَذَرَ المَوْت) mengisyaratkan dahsyatnya musibah yang melanda mereka, dan mereka tidak melakukan semua itu, kecuali takut mati dan ingin keselamatan belaka.”([7])
            Satu lagi contoh yang tentunya akan menambah keyakinan Anda terhadap kemukjizatan sistematika dan estetika Al-Quran dalam memberikan pemaknaan, contoh yang disebutkan Ustadz Nursi berikut ini di firman Allah:
وقَالَ تَعَالَى ذِكْرُهُ: )وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ( (Q.S. Al-Baqarah [2]: 3)
            “Jumlah kalimat ini mengisyaratkan 5 syarat dalam pelaksanaan sedekah, ini terpancar dari setiap bagian kalimat tersebut:
            Syarat pertama terilhami dari huruf (مِن) at-Tab’idiyyah ([8]) pada kalimat (مِمَّا), artinya: hendaknya para pemberi sedekah tidak melampaui batas kemampuan mereka dalam bersedekah, sehingga nantinya mereka sendiri yang mengulurkan tangan minta sedekah.
            Syarat kedua terwujud dari kata (رَزقنْاَهُم), artinya: yang bersedekah tidak mengambil rezeki Said, dan menyedekahkannya ke Amru. Akan tetapi, yang wajib sedekah itu dikeluarkan dari hartanya sendiri, seperti makna yang diserukan kata itu sendiri: “Sedekahkanlah sebagian dari apa yang kami telah rezekikan kepada kalian!”
            Syarat ketiga tersirat pada kata (نَا) di (رَزَقْنَاهُم), artinya: hendaknya yang bersedekah jangan menghitung kebaikannya karena kata itu menegaskan: “Pada hakikatnya, kamu tidak punya pemberian apa-apa terhadap mereka di sedekah tersebut. Saya yang telah memberi kamu rezeki. Apa yang kamu sedekahkan itu sebagian dari harta-Ku kepada hamba-Ku sendiri.”
            Syarat keempat terlihat di (يُنْفِقُوْن), artinya: hendaknya yang bersedekah menyedekahkan hartanya kepada mereka yang benar-benar butuh, karena jika tidak seperti itu, sedekah yang dikeluarkan bukan pada tempatnya tidak diterima di sisi-Nya.
            Syarat kelima terukir juga di (رَزَقْنَاهُم), artinya: hendaknya sedekah dengan nama Allah SWT, karena kata itu menyiratkan: “Harta itu harta-Ku, maka wajib atas kamu menafkahkannya dengan atas nama-Ku.”         
            Selain kelima syarat sedekah yang tersirat dalam ayat tersebut, ayat ini juga mengisyaratkan makna umum dalam sedekah. Karena di antara sedekah itu ada yang berbentuk harta, ada juga yang terhitung sedekah yang tidak bersifat materi, seperti: ilmu pengetahuan, perkataan, perbuatan, dan nasihat. Makna-makna ini dikoleksi isyarat kata (مَا) (relative noun) di (مِمَّا) yang memberikan makna umum.
            Demikianlah jumlah yang singkat ini mengoleksi lima syarat sedekah dan menjelaskan tempat-tempat pendistribusiannya dengan begitu luas.([9])
            Jika Anda telah meyakini kemukjizatan sistematika Al-Quran dilihat dari ketelitian dan ketepatannya memilih dan merangkai kata menjadi kalimat yang memberikan pemaknaan yang terpadu dengan makna kalimat lain di ayat tertentu, sehingga ayat itu dengan sendirinya menyuguhkan bagian pemaknaan yang menyatu dengan makna umum kelompok ayat dan tujuan umum sebuah surah. Kini, Anda pasti sudah siap mengetahui lebih lanjut keistimewaan mukjizat sistematika surah-surah Al-Quran.
            Sebelum terlalu jauh menyentuh sisi ini, ada pertanyaan mendasar yang menunggu jawaban dari Anda. Mereka mengatakan: “Baik Anda atau kami pasti mengetahui bahwa Al-Quran mengoleksi makna yang begitu banyak dalam satu surah. Tentunya, ini cukup meragukan kemampuan Al-Quran memetik hasil banyak. Seandainya saja setiap tema satu surah, pastinya lebih baik dan memudahkan pecinta Al-Quran memetik langsung makna-makna Al-Quran?”
            Sebelum penulis mengajak Anda terlalu jauh memberikan jawaban, Anda diajak melihat ilustrasi makna berikut ini:
            Jika Anda masuk kebun yang memiliki banyak jenis tanaman, tentu dengan mudahnya Anda memenuhi kebutuhan yang diinginkan, Anda bisa memilih satu jenis buah dan meninggalkan yang lain sesuai dengan kebutuhan yang ada, beda halnya jika kebun itu hanya memperlihatkan satu jenis tanaman, tentu tidak ada pilihan bagi Anda, dan boleh jadi Anda meninggalkan kebun itu tanpa memetik sesuatu pun.
            Al-Quran tidak jauh beda dari ilustrasi di atas. Dengan koleksi makna yang beraneka ragam dalam satu surah, ia memudahkan pecinta kalam ilahi memilih jenis kebutuhan maknawi akal dan kalbu mereka, sehingga tidak ada pengunjung yang pulang dengan tangan kosong, semuanya pulang dengan bawaan masing-masing dengan penuh rasa puas. Jika Anda membelanjakan waktu Anda di perbendaharaan makna Al-Quran, Anda pasti merasa kaya makna, akal menemukan ilmu, hati mendapatkan pencerahan, kehidupan tersinari dengan percikan-percikan maknawiyat Al-Quran yang begitu tinggi dan bersahaja. Olehnya itu, meskipun Anda membaca satu surah, Anda seperti membaca seluruh surah Al-Quran. Yang demikian itu karena maqashid Al-Quran (tujuan mendasar penurunan Al-Quran yang meliputi semua manusia, seperti: ketuhanan, kenabian dan risalah, keadilan, dan hari kebangkitan) terhimpun dalam surah itu, bahkan terkoleksi di kalimat dan ayat-ayatnya.
            Kebenaran ini dipertegas oleh pernyataan Imam al-Baqilani berikut ini:
            “Jika mereka mengatakan: Andai kata Al-Quran turun seperti buku-buku lain yang bab dan pasal-pasalnya telah tertata rapi, sehingga setiap jenis ilmu dimuat satu surah, tentunya ia akan memperlihatkan sistematika yang lebih baik dan faedahnya pun pasti banyak? Jawabnya: “Al-Quran turun seperti itu, turun dengan mengumpulkan pelbagai makna dalam satu surah, bahkan dalam satu ayat, supaya faedahnya lebih banyak dan lebih meluas. Seandainya saja setiap tema satu surah, tentu faedahnya tidak terlalu banyak, dan orang kafir yang mendengarnya tidak terhujat kecuali dengan satu makna itu yang dikoleksi surah tersebut, tetapi dengan koleksi makna yang padat di setiap surah, sistematika Al-Quran lebih banyak memberikan manfaat.””([10])
Di samping itu, Al-Quran kitab petunjuk dan penyembuh yang mencakup semua lapisan masyarakat. Supaya dengan mudahnya mereka mendapatkan bimbingan hidup dan obat maknawi terhadap penyakit mereka, Al-Quran mengoleksi banyak makna dalam setiap surah, sehingga meskipun mereka tidak membaca semua surah Al-Quran, mereka seperti mendapatkan semua obat Al-Quran. Yang diyakini penulis, obat Al-Quran ini tujuan penyembuhannya sama, yang berbeda cara Al-Quran memaparkan obat-obat maknawinya sesuai dengan pemaknaan umum yang mengalir di bagian-bagian sistematika sebuah surah.
Ustadz Said Nursi berkata:
“Ketahuilah! Al-Quran titah ilahi dan obat semua lapisan manusia, dari yang paling cerdas ke yang lebih bodoh, dari yang paling bertaqwa ke yang jatuh di dasar jurang kesengsaraan, dari yang mendapatkan taufiq meniti jalan akhirat ke yang terfitnah oleh kenikmatan-kenikmatan dunia yang semu. Jika sulit bagi setiap orang membaca Al-Quran setiap saat, sementara Al-Quran itu obat dan penyembuh setiap orang di setiap waktu, olehnya itu, Yang Maha Bijaksana lagi Maha penyanyang menempatkan kebanyakan dari maqashid-maqashid Al-Quran di pelbagai surah, khususnya surah-surah panjang, sehingga setiap surah seperti mini Al-Quran yang memudahkan setiap pemerhati dan pecinta Al-Quran.” ([11])
Keistimewaan lain mukjizat Al-Quran yang tidak kalah terangnya dengan keistimewaan di atas, maknanya yang senantiasa meremaja, fresh, dan tidak pernah berhenti memberikan perasan sari pati makanan hati dan akal bagi mereka yang haus hikmah-hikmah qur’ani dan hakikat-hakikat keimanan. Al-Quran menyuguhkan sari pati maknanya sesuai dengan tingkat keilmuan dan pemahaman pemerhatinya. Apa yang didapat si A terhitung sari pati terhadapnya, begitu pula dengan B, meskipun derajat gizi rohani kedua sari pati tersebut beda tingkat, dilihat dari perbedaan tingkat pengetahuan.
Hematnya, percikan-percikan makna Al-Quran ini tidak akan pernah habis selagi pentas manusia di dunia masih berjalan. Di lain sisi, satu makna dari makna-makna yang tidak terhingga itu memberikan kekuatan maknawi yang sama kepada setiap pecintanya, meskipun pengaruh obat maknawi ini terhadap kalbu berbeda-beda, sesuai penyakit dan kesiapan mereka menerima pesan-pesan maknawi tersebut menjadi obat mujarab.
Semakin tinggi tingkat kebutuhan dan kepapaan kita di hadapan mega makna Al-Quran, semakin besar peluang akal dan hati tercerahkan dengan kesejukan embun panggilan-panggilannya, puja-pujinya memaparkan keagungan dan kemuliaan zat dan sifat-sifat Allah yang Maha Bijak dan Mengetahui, hikmah-hikmah hukum syariat-Nya, teguran-tegurannya untuk orang-orang beriman yang kadang terasa halus dan kadang juga terasa keras menyusut dari perumpamaan-perumpamaannya yang memperlihatkan tragedi menyedihkan umat-umat terdahulu yang angkuh mengikuti ajaran nabi-nabi mereka.
Olehnya itu, buanglah dari jubah pribadi qur’ani Anda keangkuhan dan kesombongan yang kadang mengecoh diri Anda sendiri dengan ego dan popularitas semu. Semakin suci diri Anda dari sifat-sifat seperti ini, semakin besar kesempatan Anda mengisi kekosongan jiwa yang menanti siraman-siraman ayat ketuhanan Al-Quran.
Yang cinta Qur’an, mereka yang selalu merasa butuh tiap saat terhadap petunjuk Al-Quran, merasakan kejanggalan hidup jika satu hari berlalu darinya tanpa sentuhan-sentuhan Al-Quran yang lahir dari bacaan, tadabbur, dan tafsir.
Hakikat keistimewaan mukjizat Al-Quran ini dapat Anda lihat penjabarannya di penafsiran ilmiah Ustadz Nursi yang menggambarkan perbedaan tingkat pengetahuan manusia dalam memahami makna dan hikmah penciptaan gunung, seperti di ayat berikut ini:
وقَالَ جَلَّ ثَنَاؤُهُ: )وَالْجِبَالَ أَوْتَادًا( (Q.S. An-Naba’ [78]: 7)
 “Dari Mereka ada yang melihat gunung-gunung itu seperti pasak yang ditancapkan ke perut bumi, sebagaimana yang nampak di hadapan mata, sehingga dengan sendirinya mereka memikirkan nikmat dan faedah penciptaan gunung, dan mensyukuri Sang Pencipta. Itulah bagian orang-orang awam.
Ada juga dari mereka yang mengkhayalkan bumi layaknya tanah yang terhampar, atap langit ibaratnya tenda biru yang sangat besar mengelilingi bola dunia dan dihiasi dengan lampu-lampu, gunung-gunung nampak baginya memenuhi cakrawala, dan puncaknya menyentuh ujung-ujung langit sehingga mereka seperti pasak-pasak tenda besar itu. Ia pun tercengang, takjub, dan menyucikan Sang Maha Pencipta yang Mulia. Itulah bagian para penyair.
Ada juga dari mereka yang mencontohkan permukaan bumi dengan padang pasir yang luas, melihat rentetan pegunungan mirip dengan rentetan tenda besar yang dihuni oleh pelbagai makhluk hidup, sehingga lapisan-lapisan tanah ibaratnya penutup yang sengaja dilemparkan ke ujung pasak-pasak itu untuk diangkat menjulang ke atas dengan ketajaman yang ada pada unjungnya, sehingga menjadi rumah-rumah yang dihuni aneka ragam makhluk hidup. Demikianlah dia memahami sambil bersujud di hadapan Sang Pencipta yang Maha Mulia dalam keadaan tercengang dan takjub dari penciptaan gunung-gunung tersebut yang dimisalkan dengan tenda-tenda yang dibentangkan di atas permukaan bumi. Itulah bagian orang-orang badui yang berakal.
Dan ada pula dari mereka yang melihat bola dunia seperti kapal yang sedang berlayar di atas ombak samudera udara dan eter (unsur sangat halus yang memenuhi lapisan teratas ruang angkasa), gunung-gunung seperti tiang-tiang kapal yang berfungsi menjaga keseimbangan. Begitulah ahli geografi berpikir sembari berkata di hadapan keagungan Sang Maha Kuasa yang telah menjadikan bola dunia sebagai kapal yang berlayar dengan frekuensi kecepatan yang teratur, dan menjadikan kita penumpang di dalamnya: “Maha Suci Engkau, dan Maha Agung perihal-Mu, ya Allah.”
Dan ada juga dari mereka yang memahami bumi seperti pemukiman, dan tolak punggung kehidupan pemukiman ini adalah makhluk hidup yang melangsungkan kehidupan mereka di dalamnya. Sementara itu, sumber kehidupan adalah air, udara, dan tanah. Di sini gunung sebagai penjaga dan pelestari ketiga unsur ini, karena gunung gudang air, filter udara yang mengendapkan gas-gas beracun (filtrasi), pelindung terhadap tanah dari telapan air laut dan lumpur, dan gudang terhadap segala kebutuhan manusia. Demikianlah ia memahami sembari memuji dan menyucikan Sang Maha Pencipta yang Maha Mulia dan Pemurah yang menjadikan gunung-gunung sebagai pasak dan gudang makanan terhadap kelangsungan hidup manusia di permukaan bumi. Itulah bagian para ahli ilmu sosial kemasyarakatan yang tahu dasar-dasar peradaban modern.
Dan ada juga dari mereka yang tahu bahwa mekanisme pembauran unsur-unsur tanah, dan gempa yang terjadi di dasar bumi akan berhenti dengan adanya gunung. Olehnya itu, gunung-gunung telah menjaga keseimbangan siklus putaran bola dunia pada orbitnya mengelilingi matahari. Begitulah Para filosof memahami dan mengimani sembari berkata: “Hikmah itu milik Allah.””([12])
Hematnya, keistimewaan mukjizat Al-Quran tidak mungkin dibatasi oleh pena dan tulisan, selagi Al-Quran mencakup corak-corak kemukjizatan yang tidak terhingga. Olehnya itu, di akhir tulisan ini saya mengajak pemerhati dan pecinta Al-Quran menyuarakan kesimpulan berikut ini:
“Perlihatkan kepapaan Anda di hadapan mega makna Al-Quran, kepapaan yang butuh pencerahan rohani dan kekuatan maknawi sentuhan-sentuhan ayatnya yang menyejukkan! Yakinilah! Keindahan estetika dan sistematika Al-Quran yang memukau tidak mungkin tertandingi oleh kekuatan apa pun! Corak kemukjizatan ini salah satu corak kemukjizatan yang paling bersinar. Sekali lagi, tunjukkan kepapaan Anda dan arahkanlah diri Anda dengan sepenuh jiwa ke alam qur’ani yang penuh pesona dengan suguhan-suguhan maknanya yang tidak bertepi.”

([1])   Abu al-Hasan al-Asy’ari Ali bin Ismâil bin Ishâq, Maqâlât al-Islâmiyyin wa Ikhtilâf al-Mushallin, ditahkik oleh Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid, Maktabah an-Nahdah al-Misriyah, Cairo, cet. 1, 1369 H, vol. 1, hlm. 271
([2])   Abdul Qâhir bin Thâhir bin Muhammad al-Bagdadi, al-Farqu baena al-Firaq, ditahkik oleh Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid, al-Maktabah al-Masriyyah, Beirut, cet. 1416 H/1995, hlm. 143
([3])   Pernyataan ini salah satu dalil tambahan dari penolakan kami terhadap wacana An-Nadzzam yang ditegaskan oleh Dr. Muhammad As-Sayyid Radhi Jibril, salah satu anggota tim penguji di sidang promosi disertasi kami yang berjudul “Pengaruh Sistematika Al-Quran terhadap Tafsir Abi Suud (982 H) dari awal Surah Al-Maidah hingga Akhir Surah Al-An’am, أثر نظم القرآن في تفسير شيخ الإسلام أبي السعود العمادي المتوفى سنة 982 هـ من أول سورة المائدة إلى آخر سورة الأنعام) yang digelar di Fakultas Ushuluddin, Universitas Al-Azhar, pada tanggal 17 Februari 2013, 7 Rabiul Akhir 1434 H
([4])   AlJahidz, al-Bayân wa at-Tabyin, ditahkik oleh Abdu as-Salam Muhammad Harun, Maktabah al-Khanji, Cairo, cet. 1418 H/1998 M, vol. 1, hlm. 20
([5])   Lihat: Ibn Atiyyah Abdul Haq bin Ghâlib al-Andalusi, al-Muharrat al-Wajiz fi Tafsir al-Kitâb al-Aziz, ditahkik oleh Abdu as-Salam Abduh as-Syafi’, Darul Kutub Ilmiyah, cet. 1, 1423 H/2001 M, Beirut, vol. 1, hlm. 52
([6])   Mustafa Muslim, Mabâhits fi I’jâz Al-Qurân, Dar Muslim, Riyadh, cet. 2, 1416 H, hlm. 143
([7])   Said Nursi, Isyarat al-I’jaz, hlm. 138-139
([8])   Artinya: sebagian saja dari harta yang disedekahkan.
([9])   Said Nursi, al-Kalimât, diarabkan oleh Ihsân Qâsim as-Shâlihi, Sözler, Cairo, cet. 6, 2011, vol. 1, hlm. 427
([10])                 Bayân I’jâz al-Qur’an, hlm. 54
([11])                 Badiuzzaman Said Nursi, al-Masnawi al-Arabi, ditahkik oleh Ihsân Qâsim as-Shâlihi, Maktabah Sozler, Cairo, cet. 3, 2003 M, hlm. 70
 ([12])         Badiuzzaman Said Nursi, al-Kalimât, diarabkan oleh Ihsân Qâsim as-Shâlihi, Dar Sôzler, Cairo, cet. 6, 2011 M, hlm. 449-450

Senin, 17 Juni 2013

SENANTIASA BERBAIK SANGKA KHUSNUDZHAN

Khusnuzhon, mudah dikatakan, sangat sulit diamalkan dan banyak disepelekan.
Dari Anas Bin Malik Radhiyallohu ‘Anhu belia meriwayatkan :



Suatu ketika kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah Shallalla
hu ‘alaihi Wasallam tiba-tiba-tiba beliau bersabda :


يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

“Sebentar lagi akan datang seorang laki-laki ahli surga”.
Tidak lama kemudian datanglah seseorang –yang tidak begitu dikenal- dari kalangan Anshar, yang jenggotnya masih basah dengan air wudhu’ sambil menenteng sandal di tangan kirinya.

Keesokan harinya kami duduk-duduk bersama Rasulullah Shollallohu ‘alaihi Wasallam dan beliau mengatakan hal sama lalu muncul orang yang sama dengan melakukan hal yang sama pula. Demikian terjadi hingga tiga hari berturut-turut. Ketika Rasulullah berdiri dari tempat duduk beliau Abdullah bin Amr bin Ash mengikuti laki-laki tersebut seraya berkata :

“Aku sedang bertengkar dengan ayahku dan aku bersumpah tidak akan pulang ke rumah sampai tiga hari ini. Bolehkah aku menginap di rumahmu wahai saudaraku ?” Orang itu ternyata mengijinkan.
Kemudian Anas bin Malik melanjutkan :

“Setelah Abdullah bin Amr bin Ash menginap selama tiga hari, ia pun menceritakan apa yang dilihatnya. Ternyata iaa tidak melihat orang itu bangun malam untuk sholat tahajjud, kecuali hanya terjaga sebentar lalu tidur lagi. Dan setiap kali ia terjaga, ia hanya berdzikir dan bertakbir lalu kembali tidur hingga datang waktu sholat Shubuh.

Selama tiga hari berturut-turut setiap kali engkau datang ke masjid, Rasulullah Shollallohu ‘alaihi Wasallam selalu bersabda :

“Sebentar lagi akan datang seorang laki-laki ahli surga”, maka aku sangat ingin mengetahui amal ibadah apa yang telah engkau lakukan sehingga aku bisa menirumu. Tetapi selama tiga hari ini aku bersamamu aku tidak melihat sesuatu yang istimewa dari dirimu”.

Apa sebenarnya yang telah engkau lakukan sehingga Rasulullah Shollallohu ‘alaihi Wasallam berkata seperti itu ?”.

“Memang tidak ada yang istimewa dalam diriku kecuali yang telah engkau saksikan sendiri selama tiga hari ini”. Jawab orang itu.
“Maka aku pun segera pergi meninggalkan orang itu”, kata Abdullah bin Amr Amr bin Ash. Seketika itu ia memanggilku dan berkata :

مَا هُوَ إِلاَّ مَا رَأَيْتَ غَيْرَ أَنِّى لاَ أَجِدُ فِى نَفْسِى لأَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ غِشًّا وَلاَ أَحْسُدُ أَحَداً عَلَى خَيْرٍ أَعْطَاهُ اللَّهُ إِيَّاهُ

“Tidak Ada yang istimewa dalam diriku kecuali yang telah engkau saksikan sendiri selama tiga hari ini, hanya saja tidak pernah terdetik sedikit pun dalam hatiku buruk sangka terhadap saudaraku sesama Muslim dan Aku tidak pernah merasa iri terhadap nikmat dan karunia yang Allah berikan kepada seserorang di antara mereka”.
Abdullah bin Amr Amr bin Ash pun menjawab :

هَذِهِ الَّتِى بَلَغَتْ بِكَ وَهِىَ الَّتِى لاَ نُطِيقُ

“Inilah kelebihan yang engkau miliki dan yang tidak mungkin dapat kami lakukan”.
(HR Ahmad dan Nasa’i dan dinyatakan Shahih oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth berdasar syarat-syarat Bukhari & Muslim)

Minggu, 16 Juni 2013

BERSEDEKAH DENGAN TANGAN SENDIRI

Dikeluarkan oleh At-Thabarani dan Al-Hasan bin Sufyan dari Muhammad bin Usman dari Bapaknya katanya, "Harisah bin An-Nu'man telah kehilangan penglihatan matanya, beliaupun mengikat benang dari kain sajadahnya ke biliknya. Apabila orang-orang miskin peminta sedekah datang, beliau akan mengambil uang dari uncangnya dan dengan bantuan benang tersebut, beliau menuju ke arah pintu itu untuk menyerahkan uang itu dengan tangannya sendiri. Melihat keadaan yang demikian, keluarganya pun berkata, 'Biarlah kami melakukannya untuk untuk mu', 
Sebaliknya beliau berkata: 'Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah SAW telah bersabda,"Memberi sedekah kepada orang miskin dengan tangan sendiri akan menyelamatkan seorang dari kematian di dalam kehinaan".Sebagaimana dalam Al-Ishabah. 

Dikeluarkan oleh Abu Nu'aim di dalam kitab Al-Ishabah dan Ibnu Mas'ud dari Muhammad bin Usman dari Bapaknya.Dikeluarkan oleh Ibnu Asakirdari Amru Al-Laithi katanya, "Kami berada di sisi Wasilah bin Al-Ashqa ra. ketika seorang peminta sedekah datang. Amru ra. pun mengambil sekeping roti dan meletakkan beberapa keping uang di atas roti tersebut lalu bangun untuk memberikannya kepada peminta sedekah itu. Akupun berkata, Ya Ashqa'! adakah sesiapa dikalangan ahli keluargamu yang dapat melakukannya untuk mu? Beliau menjawab, "Ya, akan tetapi barangsiapa bangun untuk memberikan sesuatu kepada orang miskin, setiap langkahnya menuju kepada si miskin itu akan menghapuskan satu kejahatan. Apabila ia meletakkannya di atas telapak tangan si peminta sedekah lalu kembali duduk di tempatnya, setiap langkah nya akan menghapuskan sepuluh Kejahatan". 

Dikeluarkan oleh Ibnu Sa'ad daripada Nafi' sesungguhnya Ibnu Umar r.anhuma telah mengumpulkan ahli keluarganya duduk menghadap sebuah mangkuk yang besar untuk menikmati minuman setiap malam. Kadang-kadang beliau terdengar suara peminta sedekah di luar rumah meminta makanan, lalu beliaupun bangun dan membawa bagiannya yang terdiri dari daging dan roti lalu memberikannya kepada peminta sedekah tersebut. Beliau tidak akan kembali duduk ke tem,patnya sehinggalah makanan itu habis diambil peminta itu. Jika terdapat makanan yang berlebihan, beliau akan makan, jika tidak beliau akan berpuasa sepanjang harinya.

Sabtu, 15 Juni 2013

Hijab, Sekedar menutup Aurat atau Tren Fashion masa kini?


Tiap hari ketika saya menonton televisi, makin banyak saja artis wanita indonesia yag memakai hijab. Sebut saja yang baru memakai hijab adalah Zaskia Sungkar, Nuri Maulida dan aprilia jasmine. Di dukung rupa cantik , fashion yang stylish, dan kekreatifan mereka dalam melilitkan den memadupadankan hijab dengan busana mereka, tentunya gaya baru mereka memberikan nuansa berbeda bagiyang melihatnya, dan menjadikan suatu icon trendsetter bagi para fansnya. Tentu hal ini membawa dampak yang positif untuk si artis maupun fans yang melihat kemudian tertarik mengikuti jejak sang artis.

Gaya berhijab saat ini pun tidak monoton hanya membentuk potongan segitiga, warna-warna standar dan aksesoris minim. Tapi sekarang, revolusi hijab sudah sangat berkembang pesat, mulai dari bentuk, pelengkap hijab, aksesoris pendukungnya, dan tentu saja dengan itu semua, membuat hijabers makin clic and chic dalam penampilan. Tidak lagi bosan dengan penampilan itu – itu saja.Nah pertanyaannya saat ini, apakah para hijabers tersebut memang benar-benar memahami makna dari penutupan aurat, atau hanya sekedar mengikuti tren baru yang diciptkan oleh desainer muda “dian pelangi”sang pelopor hijabers community bahwa sekarang berhijab itu tidaklah kolot dan membosankan, tetapi fashionable dan chick.

Melirik sebentar kepada arti kata hijab ~ Al-Hijab berasal dari kata hajaban yang artinya menutupi, dengan kata lain al-Hijab adalah benda yang menutupi sesuatu, menurut al-Jarjani dalam kitabnya at-Ta’rifat mendefinisikan al-Hijab adalah setiap sesuatu yang terhalang dari pencarian kita, dalam arti bahasa berarti man’u yaitu mencegah, contohnya: Mencegah diri kita dari penglihatan orang lain.

Jadi jelas disini dikatakan berhijab itu gunanya untuk menutupi aurat para wanita, agar dia terlindungi dari marabahaya. Tentunya juga si hijaber tersebut menutupi aurat dengan mamakai pakain yang mentupi tubuh sesuai dengan syariat brhijab yang baik.

Mengutip surat Al-Ahzab ayat 59 yang berbunyi . . .
“Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min:”Hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.”

Disini terlihat bahwa hijab itu memudahkan pengenalan bagi si pemakai. Jadi disini hijab juga dapat digunakan sebgai pencitraan bagi pemakaianya. Pemakai hijab senantiasa tercitrakan sebagai wanita yang lemah lembut, sopan santun dan berakhlak baik. Mungkin pencitraan itu pula yang membuat para artis berbondong – bondong menutupi kepala mereka dengan hijab agar masyarakat memiliki kesan positif kepada mereka, selain karena hijab sedang in. Tapi apakah semua kesan tersebut langsung bisa kita dapat jika menggunakan hijab? Tentu saja tidak bisa langsung kita dapatkan. Harus didasari dengan kemampuan kita merubah dan mengendalikan diri kita sendiri. Tetapi dengan menggunakan hijab, setidaknya memberikan kita peringatan ketika kita akan berkata buruk atau bertindak yang kurang baik. Maka dari itu, pecitraan wanita berhijab sangatlah mulia.

“Maka sebaiknya sebelum benar-benar memutuskan untuk menutupi kepala kita dengan hijab, putuskanlah apakah hati kita juga siap untuk berhijab , dalam arti kata bisa menjaga hati dan perilaku.

Para hijabers sendiri tentunya menginginkan cara berhijab yang fashionable, karena sekarang pilihan-pilihan hijab pun makin colourfull dan chick. Tentunya memudahkan para wanita yang ingin menghapus anggapan berhijab adalah suatu hal basi dan kampungan. Tapi tentunya hijabers harus mematuhi aturan dalam berhijab seperti memakai baju yang tidak ketat, yang tidak menonjolkan sisi “feminitas” wanita, dan sopan. Tentunya akan lebih enak dipandang dan menjunjung arti memakai hijab itu sendiri agar kita tidak hanya mempercantik lahiriah saja, tetapi batiniah juga cantik